Rabu, 28 April 2010

proposal pnelitian



HUBUNGAN PENGUASAAN TEORI PARAGRAF DENGAN KEMAMPUAN MENENTUKAN IDE POKOK SETIAP PARAGRAF DALAM WACANA SISWA KELAS VIII
SMP MUHAMMADIYAH 21 SERBALAWAN
T.P 2009/2010

PROPOSAL

Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat
Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan ( S.Pd )Pada Jurusan
Pendidikan Bahasa dan Seni Program Studi
Bahasa dan Sastra Indonesia

OLEH DESSY CUMALASARI SARAGIH
0602040034

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
MEDAN
2010

DAFTAR ISI i
BAB I : PENDAHULUAN 1
A. Latar Balakang Masalah 1
B. Identifikasi Masalah 2
C. Pembatasan Masalah 3
D. Rumusan Masalah 3
E. Tujuan Penelitian 4
F. Manfaat Penelitian 4

BAB II : LANDASAN TEORETIS 5
A. Kerangka Teoretis 5
1. Pengertian Penguasaan Teori Paragraf 6
2. Rangka atau Struktur Paragraf 7
3. Syarat-syarat Paragraf 7
4. Pengertian Kemampuan 8
5. Ide Pokok Paragraf 10
6. Pengertian Wacana 14
B. Kerangka Konseptual 15
C. Hipotesis 16

BAB III : METODE PENELITIAN 17
A. Lokasi dan Waktu Penelitian 17
B. Populasi dan Sampel 18
C. Metode Penelitian 20
D. Variabel Penelitian 21
E. Instrumen Penelitian 21
F. Teknik Penelitian 22

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Bahasa sebagai alat komunikasi, memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Dengan perantaraan bahasa kita dapat menyampaikan ide, gagasan, dan perasaan kita kepada orang lain. Kita dapat diterima sebagai anggota masyarakat karena adanya kesepakatan menggunakan bahasa tersebut sebagai alat komunikasi.
Sesuai dengan keperluan yang sifatnya komunikatif manusia telah berusaha dan telah berhasil menyalin wujud bahasa ke dalam bentuk huruf atau tulisan. Karena itu, untuk membedakan wujud diantara keduanya digunakanlah istilah bahasa lisan dan bahasa tulis.
Pemakaian bahasa Indonesia pada suasana formal menuntut penerapan kaidah bahasa dalam berkomunikasi. Untuk itu dilaksanakan pengajaran Bahasa Indonesia mulai dari tingkat dasar hingga ke perguruan tinggi dengan tujuan pemakai bahasa terampil berbahasa Indonesia.

Sebuah paragraf terdiri dari kalimat-kalimat yang memperlihatkan kesatuan pikiran atau mempunyai keterkaitan dalam membentuk gagasan atau topik. Gagasan atau topik dalam sebuah paragraf dapat juga disebut dengan ide pokok atau pikiran utama. Untuk menjelaskan satu pikiran utama maka dalam sebuah paragraf terdapat beberapa pikiran penjelas. Dengan kata lain, dalam satu paragraf terdiri dari pikiran utama dan pikiran penjelas. Pikiran utama dalam sebuah paragraf dituangkan ke dalam kalimat utama, dan pikiran penjelas dituangkan ke dalam kalimat penjelas.
Dalam menentukan ide pokok setiap paragraf peserta didik sebaiknya mengetahui apa yang dimaksud dengan paragraf, ciri-ciri paragraf dan rangka atau struktur paragraf terlebih dahulu. Dengan memahami teori paragraf, maka peserta didik mampu menentukan ide pokok setiap paragraf dengan baik dan tepat.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis berniat untuk meneliti bagaimana kemampuan siswa menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana. Kemudian penulis juga ingin mengetahui apakah ada hubungan penguasaan teori paragraf dengan kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010.

B. Identifikasi Masalah
Untuk mempermudah proses penelitian dan menghindari terjadinya penyimpangan dalam penelitian, maka penulis harus mengidentifikasi masalah yang jelas. Sehubungan dengan judul penelitian ini maka yang menjadi identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Penguasaan teori paragraf.
2. Kemampuan menentukan jenis-jenis paragraf.
3. Kemampuan mengidentifikasi ciri-ciri paragraf.
4. Pengetahuan siswa tentang rangka atau struktur sebuah paragraf.
5. Mengetahui letak kalimat utama dalam sebuah paragraf.
6. Kemampuan menentukan ide pokok paragraf.


C. Pembatasan Masalah
Dalam sebuah penelitian diperlukan pembatasan masalah agar permasalahan yang akan diteliti tidak terlalu luas. Oleh karena itu, dalam penelitian ini penulis membatasi masalah pada penguasaan teori paragraf dan kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010.

D. Rumusan Masalah
Masalah yang dijadikan pokok penelitian harus dirumuskan secara jelas dan operasional, sehingga tampak ruang lingkup serta batasan-batasannya. Menurut Ali (1982: 39) “Rumusan masalah adalah deskriptif tentang ruang lingkup masalah yang akan diteliti”.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis merumuskan masalah penelitian ini ke dalam bentuk pertanyaan berikut:
1. Bagaimanakah penguasaan teori paragraf siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010?
2. Bagaimanakah kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010?
3. Apakah ada hubungan penguasaan teori paragraf dengan kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010?


E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mendeskripsikan penguasaan teori paragraf siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010.
2. Untuk mengetahui kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010.
3. Untuk mengetahui hubungan penguasaan teori paragraf dengan kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010.

F. Manfaat Penelitian
Pada dasarnya penelitian diharapkan bermanfaat bagi penulis dan lingkungannya. Demikian juga halnya dengan penelitian ini, diharapkan dapat memberikan masukan bagi pengembangan sistem pendidikan. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk:
1. Bahan masukan bagi pihak yang membutuhkan dan bagi penulis sendiri di dalam menjalankan tugas sebagai seorang pengajar di masa yang akan datang.
2. Bahan masukan bagi guru untuk mengetahui hubungan penguasaan teori paragraf dan kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana.
3. Bahan masukan bagi siswa agar termotivasi untuk belajar mengenai teori paragraf dan mampu menentukan ide pokok setiap paragraf dengan baik.


BAB II
LANDASAN TEORETIS

A. Kerangka Teoretis
Kerangka teoretis merupakan hasil berpikir rasional yang dituangkan secara tertulis dan terdiri dari aspek-aspek yang terdapat dalam masalah atau pendapat yang pernah ditemukan atau disusun para ahli, kemudian dipadukan agar mencapai hasil yang maksimal. Oleh karena itu, kerangka teoretis diperlukan dalam sebuah penelitian untuk mendukung dan memperkuat data-data yang ada.
Kerangka teoretis merupakan rancangan teori-teori yang berhubungan dengan hakikat untuk menjelaskan pengertian variabel yang akan diteliti. Kerangka teoretis diupayakan untuk menjelaskan ciri dari variabel tersebut. Oleh karena itu diperlukan perangkat teori-teori yang relevan dan didukung oleh pendapat beberapa ahli untuk memecahkan masalah yang akan diteliti. Untuk itu diperlukan ilmu pengetahuan sebagaimana sabda Rasulullah saw yang berbunyi:



Artinya:
“Ilmu itu merupakan kehidupan dalam Islam dan tiang iman” (Hadist diriwayatkan Abu Syaih)
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan sangat penting dalam hidup ini. Dan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan adalah dengan cara belajar, karena belajar merupakan proses yang terjadi dalam diri seseorang yang melibatkan kegiatan berpikir. Hal ini berkaitan dengan firman Allah dalam surat Az-Zumar ayat 9 yang berbunyi:
     
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang mendapat pelajaran hanyalah orang-orang yang mempunyai pikiran.”
(Departemen Agama RI, 1996: 321)
Sehubungan dengan masalah penelitian ini, maka konsep-konsep yang dibahas yaitu berkenaan dengan pengertian penguasaan teori paragraf, kemampuan menentukan ide paragraf dan pengertian wacana. Konsep-konsep itu hanya berupa uraian yang diperoleh melalui berbagai sumber yang dianggap relevan. Kerelevanan itu berupa sumber tertulis yang pernah dikemukakan ahli, dan penulis hanya mengutip dan menyimpulkan saja. Untuk lebih jelasnya akan dipaparkan pada uraian berikut.

1. Pengertian Penguasaan Teori Paragraf
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1984: 529) “Penguasaan berarti perbuatan menguasai atau menguasakan”. Kesanggupan atau pemahaman untuk menggunakan pengetahuan atau kepandaian. Jadi yang dimaksud dengan penguasaan dalam penelitian ini adalah proses atau kesanggupan untuk menguasai teori paragraf.
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1984:1054) “Teori berarti pendapat yang dikemukakan sebagai suatu keterangan mengenai sesuatu peristiwa atau asas-asas dan hukum-hukum umum yang menjadi dasar sesuatu kesenian atau ilmu pengetahuan”. Dan dalam penelitian ini teori yang dimaksud adalah pendapat yang dikemukakan sebagai suatu keterangan tentang asas-asas atau hukum-hukum sebuah paragraf.
Menurut Arifin dan S. Amran Tasai (2006:125) “Paragraf adalah seperangkat kalimat yang membicarakan suatu gagasan atau topik”. Kalimat dalam paragraf memperlihatkan kesatuan pikiran atau mempunyai keterkaitan dalam membentuk gagasan atau topik tersebut.
Sedangkan menurut Akhadiah dkk (1999: 144)
Paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan. Dalam paragraf terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh semua kalimat dalam paragraf tersebut, mulai dari kalimat pengenal, kalimat utama atau kalimat topik, kalimat penjelas sampai pada kalimat penutup. Himpunan kalimat ini saling bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan.

Dari pendapat ahli di atas mengenai pengertian paragraf, maka dapat diambil kesimpulan bahwa paragraf adalah suatu rangkaian beberapa kalimat yang saling berhubungan dan membentuk satu gagasan atau topik.
Berdasarkan uraian di atas mengenai pengertian penguasaan, teori, dan paragraf maka penulis mengambil kesimpulan bahwa penguasaan teori paragraf adalah kesanggupan untuk menguasai suatu keterangan tentang asas-asas atau hukum-hukum suatu rangkaian kalimat yang saling berhubungan dan memiliki satu topik atau gagasan.
2. Rangka atau Struktur Paragraf
Menurut Arifin dan S. Amran Tasai (2006: 134) “Rangka atau struktur sebuah paragraf terdiri atas sebuah kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas”. Dengan kata lain, apabila dalam sebuah paragraf terdapat lebih dari satu kalimat topik, paragraf itu tidak termasuk paragraf yang baik. Setiap kalimat penjelas berisi keterangan mengenai kalimat topik. Antara kalimat topik dan kalimat penjelas harus saling mendukung atau dengan kata lain setiap kalimat saling berkaitan satu dengan yang lainnya sehingga membentuk satu topik tertentu.
Menurut Arifin dan S. Amran Tasai (2006: 134) “Kalimat topik adalah kalimat yang berisi topik yang dibicarakan pengarang. Pengarang menyampaikan inti maksud pembicarannya pada kalimat topik”. Begitu menentukan pikiran utama dan menuangkannya ke dalam kalimat topik, maka penulis terikat pada kalimat topik tersebut sampai akhir paragraf.
Kalimat topik merupakan kalimat utama dalam sebuah paragraf. Kalimat utama bersifat umum. Oleh karena itu kalimat utama membutuhkan kalimat penjelas yang bersifat khusus agar pembaca memahami makna paragraf tersebut.

3. Syarat-syarat Paragraf
Menurut Arifin dkk (2006: 126) “Paragraf yang baik harus memiliki dua ketentuan yaitu kesatuan paragraf dan kepaduan paragraf.” Sedangkan menurut Akhadiah (1999: 149) “Persyaratan paragraf ialah kesatuan, kepaduan, dan kelengkapan.” Berikut akan dijelaskan lebih terperinci mengenai syarat-syarat paragraf menurut Akhadiah (1999: 149) yaitu:
1. Kesatuan
Paragraf dianggap mempunyai kesatuan, jika kalimat-kalimat dalam paragraf itu tidak terlepas dari topiknya atau selalu relevan dengan topik. Semua kalimat topik terfokus pada topik dan mencegah masuknya hal-hal yang tidak relevan.
2. Kepaduan
Syarat kedua yang harus dipenuhi oleh sebuah paragraf ialah koherensi atau kepaduan. Satu paragraf bukanlah merupakan kumpulan atau tumpukan kalimat yang masing-masing berdiri sendiri atau terlepas, tetapi dibangun oleh kalimat-kalimat yang mempunyai hubungan timbal balik. Pembaca dapat dengan mudah memahami dan mengikuti jalan pikiran penulis tanpa hambatan karena adanya loncatan pikiran yang membingungkan. Urutan pikiran yang teratur, akan memperlihatkan adanya kepaduan. Jadi, kepaduan atau koherensi dititikberatkan pada hubungan antara kalimat dengan kalimat.
3. Kelengkapan
Suatu paragraf dikatakan lengkap, jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup untuk menunjang kejelasan kalimat topik atau kalimat utama. Sebaiknya suatu paragraf dikatakan lengkap, jika tidak dikembangkan atau hanya diperluas dengan pengulangan-pengulangan.

4. Pengertian Kemampuan
Menurut Tarigan (1990: 1)
Kompetensi atau kemampuan diartikan sebagai pengetahuan apa yang dipunyai pemakai bahasa tentang bahasanya dan dinilai yang merupakan objek penting. Kompetensi adalah pengetahuan yang asli yang dimiliki individu secara tidak sadar, secara implisit, intuatif dan terbatas.

Selanjutnya dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1984: 628) menyatakan bahwa “Kemampuan adalah kesanggupan; kecakapan; kakuatan”. Selain itu, menurut Kridalaksana (2001: 105) “Kemampuan adalah pengetahuan tentang bahasa yang bersifat abstrak dan bersifat tidak sadar”.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa kemampuan adalah kesanggupan atau kecakapan yang dimiliki setiap individu secara tidak sadar, implisit, intuatif dan terbatas yang didapat melalui latihan secara rutin.
Aktivitas yang dilakukan dengan berlandaskan kemampuan maka akan menghasilkan yang terbaik. Tanpa kemampuan maka apa yang diinginkan akan sulit dicapai. Karena kemampuan merupakan batas usaha yang dapat dilakukan oleh perorangan atau kelompok.

5. Ide Pokok Paragraf
Dalam sebuah paragraf terdapat kalimat pokok atau kalimat kunci. Kalimat itu mengandung ide pokok pargaraf. Sedangkan kalimat yang lainnya adalah kalimat pendukung yang menguraikan, menjelaskan, melukiskan, menjabarkan, atau menyajikan contoh-contoh ide pokok.
Tiap penulis mempunyai gaya tersendiri dalam meletakkan ide pokoknya. Menurut Soedarso (2004:66) lazimnya ide pokok berada:
1. di awal paragraf
2. di tengah paragraf
3. di awal dan di akhir paragraf, atau
4. adakalanya di seluruh paragraf.

Kalimat kunci paragraf mengandung pernyataan tentang kata benda atau kata ganti orang yang dominan atau yang menjadi topik paragraf itu. Kemudian akan dijelaskan secara detail dengan kalimat penjelas. Menurut Soedarso (2004: 64) mangatakan bahwa:
Untuk menentukan ide pokok dengan cepat, Anda harus berpikir bersama penulis. Oleh karena itu, hendaklah Anda mengikuti struktur dan gaya penulisannya dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Hendaklah Anda membaca dengan mendesak, dengan tujuan mendapatkan ide pokok, secara cepat. Jangan Anda membaca kata demi kata, tetapi seraplah idenya dan bergeraklah lebih cepat, tetapi jangan kehilangan pengertian.
2. Hendaklah Anda membaca dengan cepat, dan cepatlah Anda mengerti idenya, serta teruskan Anda membaca ke bagian lain.
3. Anda harus dapat melecut diri untuk cepat mencari arti sentral. Hendaklah Anda kurangi kebiasaan menekuni detail kecil. Cepatlah Anda bereaksi terhadap pokok suatu karangan dengan cermat.
4. Anda memang harus melakukan dengan cepat, tetapi Anda harus ingat terhadap kefleksibelan sehingga cara membaca adakalanya diperlambat. Janganlah Anda terlalu cepat membaca di luar hal yang normal, sehingga kehilangan pemahaman.
5. Rasakan bahwa Anda mmembaca lebih cepat daripada biasanya. Yang tidak layak diperhatikan hendaklah Anda pandang dengan cepat dan alihkan perhatian Anda ke pokok. Janganlah Anda terlalu menghiraukan detail kecil. Selesaikan bacaan Anda tanpa membuang waktu.
6. Cepat Anda dapatkan buah pikiran pengarang, tetapi jangan Anda tergesa-gesa hingga mengakibatkan ketegangan. Ketegangan dan ketergesaan tidak akan membantu memahami dengan cepat.
7. Kita perlu berkonsentrasi dengan cepat dan tepat. Terlibat penuh pada ide, gagasan yang tercetak, dan untuk sementara terlepas dari dunia luar.

Menurut Widjono Hs. (2005: 164) penempatan ide pokok paragraf yang tertuang di dalam kalimat utama dalam karangan yang terdiri dari beberapa paragraf dapat dilakukan secara bervariasi, yakni pada awal, tengah, akhir, serta awal dan akhir paragraf.

a. Ide Pokok pada Awal Paragraf
Ide pokok pada awal paragraf pada umumnya berisi pikiran utama yang bersifat umum. Kalimat selanjutnya berisi pikiran penjelas yang bersifat khusus disebut kalimat penjelas. Isi kalimat berupa penjelas, uraian, analisis, contoh-contoh keterangan, atau rincian ide pokok. Paragraf yang ide pokoknya terletak pada awal paragraf disebut dengan paragraf deduktif.
Contoh paragraf deduktif:
Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan orang tua siswa. Pemerintah bertanggung jawab dalam hal menentukan kurikulum, menyediakan gedung sekolah, dan mengangkat staf pengajar serta staf tata laksana sekolah. Masyarakat bertanggung jawab dalam menyediakan lahan untuk membangun sekolah, menjaga keharmonisan dengan cara tidak mengganggu kegiatan belajar di sekolah, dan bersedia dijadikan stakeholder jika sekolah memerlukan bantuannya untuk berpraktik di masyarakat. Begitu pun orang tua siswa, banyak peran dan tanggung jawabnya dalam membiayai anaknya bersekolah.
Paragraf di atas dimulai dengan pernyataan umum: “Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan orang tua siswa.” Kemudian pernyataan umum tersebut dirinci melalui pernyataan-pernyataan penjelas.

b. Ide Pokok di Tengah Paragraf
Paragraf dengan ide pokok di tengah paragraf, berarti di awali dengan kalimat penjelas dan di akhiri kalimat penjelas juga. Menurut Widjono (2005:166) “Paragraf ini menggunakan pola penalaran induktif-deduktif.”
Contoh paragraf induktif-deduktif:
Pasar tanah abang mulai dibanjiri pedagang yang hendak mempersiapkan dagangannya sejak pukul 05.00. Aktivitas jual beli di pasar ini dimulai sekitar pukul 08.00. Barang dagangan sebagian besar berupa produk tekstil, dari yang paling murah dengan satuan harga bedasarkan timbangan sampai dengan tekstil berkualitas impor dan ekspor. Pasar ini memperdagangkan berbagai jenis tekstil yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat ekonomi tinggi, menengah, maupun lapis bawah. Pasar tanah abang merupakan pusat perdagangan yang tidak pernah sepi oleh penjual maupun pembeli. Para pembeli mulai berdatangan pukul 08.00. Jumlah pembeli ini meningkat sampai pukul 11.30. Pada tengah hari, jumlah pembeli mulai menurun. Namun, jumlah tersebut memuncak kembali pada pukul 14.00 sampai dengan 16.30.
Paragraf di atas disusun dengan urutan kalimat pertama sampai ke lima menuju penalaran induktif (dari khusus ke umum). Dan dari kalimat ke lima sampai dengan kalimat ke sembilan menuju penalaran deduktif (dari umum ke khusus). Maka penelaran keseluruhannya adalah induktif-deduktif.

c. Ide Pokok pada Akhir Paragraf
Paragraf yang letak ide pokoknya terletak pada akhir paragraf pada umumnya di awali dengan kalimat khusus kemudian di akhiri dengan kalimat umum. Paragraf yang seperti ini disebut dengan paragraf induktif.
Contoh paragraf induktif:
Setiap pagi Amin memulai harinya dengan bangun pukul 4.00. Begitu bangun, ia langsung mandi. Usai mandi dan berpakaian siap salat, ia pergi ke mesjid untuk melaksanakan salat subuh berjamaah bersama masyarakat di lingkungannya. Pulang dari salat subuh, ia langsung membereskan kamar, menyapu lantai, mencuci pakaiannya, dan menyiapkan sarapan pagi. Setelah segalanya beres, barulah ia bersiap-siap pergi ke sekolahnya. Ternyata, Amin memang anak yang rajin dan patut dicontoh.
Berbeda dengan paragraf sebelumnya, kalimat utama pada paragraf di atas terletak di akhir paragraf: “Amin memang anak yang rajin dan patut dicontoh.” Pada paragraf di atas terlebih dahulu memaparkan pernyataan yang bersifat khusus kemudian ditutup dengan pernyataan yang umum.

d. Ide Pokok pada Awal dan Akhir Paragraf
Ide pokok pada sebuah paragraf yang tertuang pada kalimat utama pada hakikatnya hanya satu. Penempatan kalimat utama yang kedua berfungsi untuk menegaskan kembali ide pokok paragraf tersebut. Namun demikian, penempatan kalimat topik pada awal paragraf dan akhir paragraf berpengaruh pada penalaran. Ide pokok pada awal paragraf menimbulkan sifat deduktif, pada akhir paragraf menimbulkan sifat induktif, maka jika ide pokok paragraf terdapat pada awal dan akhir paragraf menjadikan pargraf tersebut bersifat deduktif-induktif.
Contoh paragraf deduktif-induktif:
Selain merinci corak keragaman paradigma sosiologi, Ritzer mengemukakan alasan perlunya paradigma yang lebih bersifat terintegrasi dalam sosiologi. Meski ada alasan untuk mempertahankan paradigma yang ada, dirasakan adanya kebutuhan paradigma yang semakin terintegrasi. Ritzer berharap adanya keanekaragaman yang lebih besar melalui sebuah pengembangan paradigma baru yang terintegrasi untuk melengkapi paradigma yang ada, dan tidak dimaksudkan untuk menciptakan posisi hegemoni baru. Paradigma yang lebih bersifat terintegrasi diperlukan kehadirannya dalam sosiologi modern.
Paragraf di atas diawali kalimat yang bersifat umum dan diakhiri dengan kalimat yang bersifat umum. Kedua kalimat topik tersebut berisi pikiran utama yang sama.
6. Pengertian Wacana
Menurut Alwi dkk (2003: 419) “Rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain itu membentuk kesatuan yang dinamakan wacana”. Sedangkan menurut Chaer (2007: 267) “Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hirarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar”.
Selain itu, menurut Kridalaksana (2001: 231):
Wacana adalah satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan (novel, buku, seriensiklopedia, dsb.), paragraf, kalimat, atau kata yang membawa amanat yang lengkap.

Dari pendapat para ahli di atas maka penulis mengambil kesimpulan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang saling berkaitan dan merupakan satuan bahasa yang lengkap, sehingga memiliki satuan gramatikal tertinggi atau terbesar dan direalisasikan dalam bentuk karangan, paragraf, kalimat, atau kata yang membawa amanat yang lengkap.

B. Kerangka Konseptual
Pada kerangka teoretis telah dijabakan hal-hal yang menjadi konflik permasalahan penelitian ini. Dalam kerangka konseptual memberikan penegasan istilah konsep pada penelitian yang terdapat pada judul yaitu “Hubungan Penguasaan Teori Paragraf dengan Kemampuan Menentukan Ide Pokok Setiap Paragraf Siswa Kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010”.
Dalam sebuah paragraf yang tersusun dari beberapa kalimat yang saling berkaitan, terdapat satu ide pokok yang tertuang dalam sebuah kalimat utama. Untuk menentukan ide pokok paragraf, terlebih dahulu peserta didik diberikan pengetahuan menganai teori paragraf. Sehingga peserta didik memahami tentang teori paragraf dan letak ide pokok dalam sebuah paragraf.
Sebuah paragraf hanya memiliki satu kalimat topik atau satu ide pokok saja. Ide pokok dalam sebuah paragraf ada yang terletak pada awal paragraf, pada tengah paragraf, pada akhir paragraf, serta terletak pada awal dan akhir paragraf.

C. Hipotesis
Hipotesis merupakan kesimpulan sementara dari judul yang akan diteliti. Menurut Ali (1982: 49) “Hipotesis merupakan kesimpulan yang ditarik berdasarkan fakta yang ditemukan; dan hal ini sangat berguna untuk dijadikan dasar membuat kesimpulan penelitian”. Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah ada hubungan penguasaan teori paragraf dengan kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010.






BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang penulis pilih dalam melakukan penelitian kali ini adalah SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan. Penulis memilih lokasi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
a. Sekolah tersebut belum pernah dijadikan sebagai lokasi penelitian sesuai dengan masalah yang dikemukakan.
b. Lokasi tersebut cukup dekat dengan tempat tinggal penulis ditinjau dari segi biaya, tenaga, dan kemudian sangat efektif untuk melaksanakan penelitian ini.

2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian ini adalah mulai dari bulan Desember 2009 sampai dengan April 2010 dengan jadwal kegiatan seperti yang tercantum pada table di bawah ini.






TABEL I
RINCIAN WAKTU PENELITIAN
No Jenis Kegiatan Bulan / Minggu ke
Januari Februari Maret April Mei
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Penulisan Proposal    
2 Bimbingan Proposal 
3 Seminar Proposal 
4 Perbaikan Proposal   
5 Surat izin penelitian 
6 Pengumpulan data 
7 Pengolahan data  
8 Penulisan skripsi 
9 Bimbingan skripsi     
10 Persetujuan skripsi 

B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Sanafiah (1982: 324) berpendapat bahwa:
Populasi adalah sekelompok individu yang mewakili satu atau lebih karakteristik umum yang menjadi pusat perhatian penelitian. Populasi bisa berupa semua individu yang mewakili pola kelakuan tertentu atau sebagian dari kelompok itu. Artinya populasi dapat berupa individu yang mewakili semua pola kelakuan atau sebagian.

Berdasarkan pendapat di atas, dan sesuai dengan judul proposal, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010 sebanyak 137 orang sebagaimana yang terdapat pada tabel berikut ini.
TABEL 2
JUMLAH POPULASI
No. Kelas Jumlah Populasi
1. VIII-A 46
2. VIII-B 45
3. VIII-C 43
Jumlah 134

2. Sampel
Menurut Sukardi (2008: 54) “Sampel adalah sebagian dari jumlah populasi yang dipilih untuk sumber data.” Isaac dan Michael dalam Sukardi (2008: 54) menyatakan bahwa dalam pengambilan sampel penelitian ini memakai rumus:

Keterangan:
S = Jumlah sampel
N = Jumlah populasi akses
P = Proporsi populasi sebagai dasar asumsi pembuatan tabel. Harga ini diambil P = 0,50
d = Derajat ketetapan yang direfleksikan oleh kesalahan yang dapat ditoleransi dalam fluktuasi proporsi sampel, d pada umumnya diambil 0,05.
= Nilai tabel chisquare untuk satu derajat kebebasan relatif level konfiden yang diinginkan. = 3,841


Berdasarkan perhitungan di atas, maka penulis mengambil sampel sebanyak 100 orang dari 134.

C. Metode Penelitian
Metode merupakan salah satu komponen penentu keberhasilan dalam suatu penelitian. Metode yang paling baik adalah metode yang sesuai dan tepat dengan masalah yang akan diteliti. Oleh karena itu, maka dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian deskriptif yang sesuai untuk menjawab atau memecahkan masalah yang sedang dihadapi pada masa sekarang.
Menurut pendapat Ali (1982: 120) yang menyatakan bahwa:
Metode deskriptif adalah masalah yang dewasa ini sedang dihadapai dalam dunia pendidikan, baik untuk mengadakan penelaahan terhadap masalah yang mencakup aspek yang cukup banyak, menelaah suatu kasus tunggal, mengadakan perbandingan antara suatu hal dengan hal lain, ataupun untuk melihat hubungan antara suatu gejala dengan gejala lain; dan hubungan antar suatu gejala dengan peristiwa yang mungkin akan munculnya gejala tersebut.

Berdasarkan pendapat di atas, maka penggunaan metode deskriptif sangat tepat dan sesuai dengan tujuan penelitian yang dilaksanakan. Penulis berharap dengan menggunakan metode ini penulis dapat mengetahui hubungan penguasaan teori paragraf dengan kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010.

D. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah fenomena atau gejala yang terdapat dalam suatu masalah penelitian yang memiliki indikator untuk diukur. Adapun variabel penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu:
1. Variabel bebas, yakni variabel yang mempengaruhi variabel lain. Dalam hal ini yang menjadi variabel bebas adalah penguasaan teori paragraf.
2. Variabel terikat, yakni variabel yang dipengaruhi variabel bebas. Dalam hal ini yang menjadi variabel terikat adalah kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana.

E. Instrumen Penelitian
Instrumen adalah alat yang digunakan untuk memperoleh data penelitian. Sesuai dengan penelitian ini maka alat yang digunakan untuk menjaring data yang diperlukan adalah:
1. Untuk mengetahui penguasaan teori paragraf, maka penulis mengguanakan tes objektif yakni tes dalam bentuk pilihan ganda. Untuk mengetahui penguasaan siswa mengenai teori paragraf, maka siswa akan diberikan beberapa pertanyaan mengenai teori paragraf sebanyak 20 soal pilihan berganda. Dengan kisi-kisi soal sebagai berikut:
TABEL 4
KISI-KISI TES PENGUASAAN TEORI PARAGRAF
No. Indikator Nomor Soal Jumlah Soal
1.
2.
3.
4. Pengertian Paragraf
Menentukan ide pokok paragraf
Menyusun paragraf
Syarat-syarat paragraf 1
2, 3, 7, 9, 10, 16, 18
4, 6, 8, 11, 12, 14
5, 13, 15, 17, 19, 20 1
7
6
6

2. Untuk mengetahui kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana, maka penulis menggunakan tes essai yakni siswa diberikan sebuah wacana yang terdiri dari beberapa paragraf, kemudian siswa menentukan ide pokok setiap paragraf dengan tepat.

F. Teknik Analisis Data
Setelah semua nilai terkumpul maka langkah selanjutnya adalah pendistribusian untuk masing-masing variabel, baik variabel penguasaan teori paragraf maupun kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana.
Adapun langkah-langkah pengolahan data penelitian adalah:
1. Menetapkan skor siswa berdasarkan kriteria penelitian yang telah ditetapkan baik hasil tes penguasaan teori paragraf maupun kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana.
2. Menetapkan skor ideal penguasaan teori paragraf maupun kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana dengan nilai tes.
3. Mencari skor rata-rata dan standar deviasi kedua variabel.
4. Mencari nilai penguasaan teori paragraf maupun kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana.
5. Mencari indeks korelasi penguasaan teori paragraf (X) terhadap kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf (Y) dengan menggunakan rumus produk momen dari individu sebagai berikut:

Keterangan:
= Jumlah skor-skor x
= Jumlah skor-skor y
= Jumlah skor-skor x yang dikuadratkan
= Jumlah skor-skor y yang dikuadratkan
N = Jumlah skor-skor yang dipasang kemudian dicari pengaruh dengan menggunakan rumus
= Jumlah hasil perkalian antara skor x dan skor y
6. Mencari derajat hubungan penguasaan teori paragraf dengan kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana.
7. Pengujian hipotesis
Untuk menguji hipotesis ini dilakukan dengan cara membandingkan harga r hitung dengan r tabel produk momen pada N = 34, dengan tingkat kepercayaan 5% dengan ketentuan:
- Jika > maka ditolak, diterima.
- Jika < maka ditolak, diterima.













DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah, Sabarti dkk. 1999. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga

Ali, Mohammad. 1982. Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi. Bandung: Angkasa

Alwi, Hasan dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Arifin, E. Zaenal dan S. Amran Tasai. 2006. Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Akademika Pressindo

Chaer, Abdul. 2007.Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta

Hs. Widjono. 2005. Bahasa Indonesia: Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta: Grasindo

Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Poerwadarminta, W. J. S. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Sanafiyah, Faisal. 1982. Metodologi Penelitian. Bandung: Angkasa

Soedarso. 2004. Speed Reading: Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Sukardi. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Tarigan, H. Guntur. 1990. Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.S

Read More ..

Sabtu, 10 April 2010

Bermain Sambil Belajar atau Belajar Sambil Bermain



Bermain Sambil Belajar atau Belajar Sambil Bermain?
Erfano Nalakiano

1 dari 1 Kompasianer menilai Bermanfaat.

satu-saja

Proses pembelajaran yang terjadi di Indonesia dilakukan dengan serius. Nyaris tak ada sesuatu yang dilakukan dengan ceria. Hal tersebut pun terjadi tak sesaat, berpuluh-puluh tahun ternyata.

Ingatkah kita, saat masih berseragam? Saat lonceng pagi berdering, pertanda kita masuk. Wajah kita terbawa begitu serius. Belum lagi pelajaran yang diberikan bertemakan serius pula. Sehingga hati kita setengah hati menerima ilmu bahkan mungkin terpental.



Saat pelajaran berhenti lalu dilanjutkan dengan istirahat, rasanya dunia menemui titik terang. Perasaan lega dan gembira berangsur-angsur terdampar di hati. Meskipun ‘titik gelap’ kembali datang kala lonceng berbunyi.

Itulah sekelumit gambaran tentang dunia pendidikan kita. Serius, terkesan satu arah, dan punishman. Padahal suatu pengetahuan akan masuk dengan baik saat otak di kepala kita enjoy dan siap.

Cetakan manusia-manusianya pun lebih banyak menjadi manusia penurut, tak kreatif dan tak kritis. Bicara tentang ilmu yang didapat pun? Banyak yang menguap.

Merancang pembelajaran dengan pola bermain adalah salah satu hal yang dianjurkan. Terlebih untuk anak-anak di bawah usia 6 tahun. Selain itu dalam membawakan materi dengan interaktif dan fun sangat membantu. Tak kaku apalagi sampai beraroma galak.

Belajar dengan bermain dapat dilakukan dengan beragam macam kegiatan. Membuat quiz, games dan kelompok belajar lebih memudahkan dalam penyerapan materi. Saat pembelajaran dilakukan, anak-anak akan merasa terlibat. Semua anggota badan akan terlibat sehingga saat otak lupa, tangan, kaki, mata, telinga dan bagian otak yang lainnya akan mengingatkan.

Apa bedanya dengan bermain sambil belajar? Tak jauh beda. Namun bermain sambil belajar lebih bebas dan tak berlaku aturan. Yang perlu diperhatikan adalah merancang alat bermain yang memiliki nilai edukasi. Untuk anak-anak usia di bawah 6 tahun, alat-alat bermain banyak membantu dalam penguatan motorik halus, motorik kasar dan kognitif anak.

Nah, yang paling penting pemateri atau yang lebih keren disebut guru yang juga mesti fun dalam penyampaian materi. Kan percuma rasanya jika rancangan pambelajaran yang sudah bagus, hanya karena si pemateri tidak siap dan tidak menguasai.

Belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar memiliki nilai-nilai positif. Tentu saja bagi perkembangan anak-anak di Indonesia. Ingat tak harus guru, kita sebagai orang tua atau calon orang tua harus bisa menggunakan pembelajaran ini. Buat anak-anak kita sebagai anak yang terlahir dengan kreatif, kritis dan mempunyai karakter yang kuat! Dan tinggalkan pembelajaran yang serius, kaku, satu arah dan serba punishman! Setujuu??

Read More ..

BELAJAR JUGA BUTUH STRtegi



Belajar juga Butuh Strategi
Dwiarko





1 dari 2 Kompasianer menilai Bermanfaat.

Pengajaran yang baik adalah pengajaran yang meliputi mengajar siswa tentang bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana berfikir dan bagaimana memotivasi diri mereka sendiri. Pembelajaran strategi lebih menekankan pada kognitif, sehingga pembelajaran ini dapat disebut dengan strategi kognitif. Strategi belajar dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu :

a. Strategi Mengulang (Rehearsal)
Strategi mengulang terdiri dari strategi mengulang sederhana (rote rehearsal) dengan cara mengulang-ulang dan strategi mengulang kompleks dengan cara menggaris bawahi ide-ide utama (under lining) dan membuat catatan pinggir (marginal note).

b. Strategi Elaborasi
Elaborasi adalah proses penambahan rincian sehingga informasi baru akan menjadi lebih bermakna, oleh karena itu membuat pengkodean lebih mudah dan lebih memberi kepastian.(Nur,2000:30). Strategi ini dapat dibedakan menjadi : 1). Notetaking (pembuatan catatan); pembuatan catatan membantu siswa dalam mempelajari informasi secara ringkas dan padat untuk menghafal atau pengulangan. Metode ini digunakan pada bahan ajar kompleks, bahan ajar konseptual dimana tugas yang penting adalah mengidentifikasi ide-ide utama.Membuat catatan memerlukan proses mental maka lebih efektif daripada hanya sekedar menyalin apa yang dibaca, 2) Analogi yaitu perbandingan-perbandingan yang dibuat untuk menunjukkan kesamaan antara cirri-ciri pokok sesuatu benda atau ide-ide, selain itu seluruh cirinya berbeda, seperti sistem kerja otak dengan komputer dan 3) Metode PQ4R adalah preview,question, read, reflect, recite dan review. Prosedur PQ4R memusatkan siswa pada pengorganisasian informasi bermakna dan melibatkan siswa pada strategi-strategi yang efektif.

c. Strategi Organisasi
Strategi Organisasi bertujuan membantu siswa meningkatkan kebermaknaan materi baru, terutama dilakukan dengan mengenakan struktur-struktur peng-organisasian baru pada materi-materi tersebut. Strategi organisasi mengidentifikasi ide-ide atau fakta-fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar. Strategi ini meliputi : 1). Pembuatan Kerangka (Outlining); dalam pembuatan kerangka garis besar, siswa belajar menghubungkan berbagai macam topik atau ide dengan beberapa ide utama, 2). Pemetaan ( mapping) biasa disebut pemetaan konsep di dalam pembuatannya dilakukan dengan membuat suatu sajian visual atau suatu diagram tentang bagaimana ide-ide penting atas suatu topik tertentu dihubungkan satu sama lain, 3) Mnemonics; berhubungan dengan teknik-teknik atau strategi-strategi untuk membantu ingatan dengan membantu membentuk assosiasi yang secara alamiah tidak ada. Suatu mnemonics membantu untuk mengorganisasikan informasi yang mencapai memori kerja dalam pola yang dikenal sedemikian rupa sehingga informasi tersebut lebih mudah dicocokkan dengan pola skema di memori jangka panjang. Contoh mnemonics yaitu : a). Chunking (pemotongan) b). Akronim (singkatan), c). Kata berkait (Link-work) : suatu mnemonics untuk belajar kosa kata bahasa asing.

d. Strategi Metakognitif
Metakognitif adalah pengetahuan seseorang tentang pembelajaran diri sendiri atau berfikir tentang kemampuannya untuk menggunakan strategi-strategi belajar tertentu dengan benar.(Arends, 1997:260). Metakognitif mempunyai dua komponen yaitu (1) pengetahuan tentang kognitif yang terdiri dari informasi dan pemahaman yang dimiliki seorang pebelajar tentang proses berfikirnya sendiri dan pengetahuan tentang berbagai strategi belajar untuk digunakan dalam suatu situasi pembelajaran tertentu, (2) mekanisme pengendalian diri seperti pengendalian dan monitoring kognitif.

Read More ..

Jumat, 09 April 2010


Strategi Belajar Mengajar Profesional
13:21 | Thursday, 8 October 2009



KITA belajar berdasarkan yang dibaca, didengar, dilihat, dikatakan dan dilakukan. Secara bahasa strategi biasanya diartikan sebagai siasat, kiat, terik atau cara. Sedangkan secara umum maknanya adalah suatu garis besar haluan dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Adapun strategi belajar mengajar bisa diartikan sebagai pola umum dalam kegiatan guru dan siswa dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Dengan istilah lain strategi belajar mengajar merupakan sejumlah langkah yang direkayasa untuk mencapai tujuan mengajar tertentu.

Untuk melaksanakan tugas secara profesional seorang guru memerlukan wawasan yang baik dan terukur tentang kemungkinan strategi belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan belajar yang dirumuskan.

Batasan belajar mengajar yang bersifat umum mempunyai empat dasar strategi.
1. Mengindentifikasi serta menetapkan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan sesuai dengan perubahan zaman.
2. Mempertimbangkan dan memilah sistem belajar mengajar yang tepat untuk mencapai sasaran yang akurat.

3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
4. Menetapkan norma batas minimal keberhasian atau kriteria dan standar keberhasilan. Sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru melakukan evaluasi hasil belajar. Selanjutnya dijadikan umpan balik untuk penyempurnaan sistem instruksional secara keseluruhan.

Dari keempat uraian di atas, jika diterapkan dalam konteks kegiatan belajar mengajar, strategi belajar mengajar pada dasarnya memiliki implikasi sebagai berikut:

1. Proses mengenal karakteristik dasar anak didik yang harus dicapai melalui pembelajaran.
2. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan kultur, aspirasi dan pandangan filosofi masyarakat.
3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik mengajar.
4. Menetapkan norma atau kriteria keberhasilan belajar.
Hakikat proses belajar mengajar terkaitan dengan konsep belajar. Banyak definisi tentang belajar, diantaranya:
1. Belajar sebagai suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.
2. Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi yang sama,. Perubahan tingkah laku tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan atau keadaan sesaat seseorang.

3. Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.

4. Belajar sebagai suatu perubahan yang relatif dalam menetapkan tingkah laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman yang lalu.
5. Belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia. Perubahan tersebut terlihat dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan daya fakir dan kemampuan lain.

Dari beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa belajar pada hakikat adalah perubahan yang terjadi di dalam diri seseorang setelah melakukan aktivitas tertentu. Walau pada kenyataannya, tidak semua perubahan termasuk kategori belajar. Misalnya perubahan fisik, mabuk, gila dan sebagainya.
Dalam belajar yang terpenting adalah proses. Bukan hasil yang diperoleh. Artinya, belajar harus diperoleh dengan usaha sendiri. Adapun orang lain hanya sebagai perantara atau penunjang dalam kegiatan belajar, agar belajar mendapatkan hasil baik. (*)

Oleh:
Gunawan SPdI
Guru SD Namira Tanjung Sari

Read More ..