
Kemampuan Menentukan Makna Kata dalam Sebuah Wacana Siswa Kelas X SMA Negeri I Salapian Tahun Pembelajaran 2009/2010
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari manusia menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Tanpa bahasa manusia tidak akan dapat berkomunikasi dengan lancar, apalagi dalam memecahkan masalah yang dihadapi setiap hari. Bahasa merupakan alat komunikasi manusia yang utama. Dengan bahasa seseorang dapat berkomunikasi dengan orang lain, dapat menjelaskan ide dan saling mencurahkan perasaan, serta memahami pikiran dan gagasan.
Kemampuan berbahasa itu sangat penting bagi manusia dalam berkomunikasi dengan orang lain. Pembinaan bahasa harus dimulai sejak kecil hingga dewasa baik di lingkungan masyarakat maupun di lingkungan sekolah. Pada suasana formal pemakai bahasa Indonesia menuntut penerapan kaidah bahasa dalam berkomunikasi, maka mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi pengajaran bahasa Indonesia dilakukan dengan tujuan agar penutur memiliki keterampilan berbahasa.
Dalam hal ini jelas bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi, sebagaimana yang dikatakan Keraf (1984: 17), “Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi atau alat perhubungan antar anggota-anggota masyarakat; suatu komunikasi yang diadakan dengan mempergunakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia.”
Berdasarkan pendapat di atas diketahui bahwa bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi yang paling penting, tanpa bahasa orang akan sulit melakukan interaksi satu dengan lainnya. Oleh sebab itu bahasa yang kita gunakan haruslah mempunyai aturan. Kita tidak bisa berbahasa sesuka hati bila ingin bahasa yang kita pakai dapat dimengerti orang lain. Seseorang yang menggunakan bahasa untuk menyampaikan informasi kepada orang lain harus menggunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami, sehingga tidak terdapat makna ganda yang dapat membingungkan pendengar.
Dalam praktek komunikasi sehari-hari, kenyataannya masih banyak para pelajar yang kurang memahami makna kata dengan benar. Mereka masih banyak yang kurang mengerti dalam pemahaman mengenai makna kata dalam sebuah wacana baik yang mereka dengar ataupun yang mereka baca. Sehingga terkadang dapat membuat salah tafsir antara pembicara dan pendengar maupun pembaca apabila mereka tidak memahami mengenai makna kata. Kesalahan dalam memahami makna kata dapat dipengaruhi karena faktor ketidaktahuan. Oleh sebab itu, sikap pemakai bahasa terhadap bahasanya sangat berpengaruh dalam memahami makna kata.
Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul ” Kemampuan menentukan makna kata dalam sebuah wacana siswa kelas X SMA Negeri I Salapian Tahun Pembelajaran 2009/2010.
B. Identifikasi Masalah
Menurut Surakhmad (1990: 10), masalah merupakan “Kondisi atau keadaan yang mengancam, mengganggu, menghambat, menyulitkan dan menunjukkan adanya kesenjangan dari apa yang diharapkan.”
Kesalahan berbahasa juga terjadi di kalangan siswa SMA Negeri I Salapian khususnya dan sekolah-sekolah lain pada umumnya, terutama dalam menggunakan bahasa yang sesuai dengan tata bahasa atau kaedah-kaedah yang telah ditetepkan, termasuk dalam menggunakan dan memahami makna kata dalam sebuah wacana.
Tarigan (1988: 198), “Membedakan kesalahan berbahasa atas kesalahan morfologi, kesalahan sintaksis dan kesalahan semantik.” Kesalahan-kesalahan ini masih dapat dibedakan atas beberapa jenis kesalahan. Kesalahan morfologi mencakup kesalahan: kesalahan pemakaian afiks, kesalahan kata ulang, kata majemuk, dan ketidaktepatan pemakaian partikel. Kesalahan sintaksis mencakup: kesalahan pemakaian kata depan, kesalahan pemakaian diksi, kesalahan penyususan kalimat yang tidak efektif. Sedangkan kesalahan semantik meliputi bidang arti, seperti denotasi dan konotasi.
Berdasarkan pendapat di atas ditetapkan identifikasi masalah pada penelitian yang dilaksanakan terarah dan tidak terlalu luas. Maka penulis menetapkan identifikasi masalah dalam judul ini mencakup:
1. Bagaimanakah minat siswa dalam memahami makna kata?
2. Bagaimana kemampuan siswa memakai makna kata?
3. Apakah kemampuan siswa dalam menentukan makna kata kurang?
C. Pembatasan Masalah
Setiap penelitian memerlukan suatu pembatasan masalah, jika masalah tidak dibatasi, maka suatu penelitian bisa keluar dari topik permasalahan yang sebenarnya. Karenanya, pembatasan masalah mutlak diperlukan agar hal yang diteliti dapat lebih terarah pada suatu masalah sesuai pendapat Surakhmad (1990: 36) yang mengatakan:
Sebuah masalah yang dirumuskan terlalu umum dan luas tidak pernah dipakai sebagai masalah itu. Sebab itu masalah perlu pula memenuhi syarat dalam merumusan yang terbatas. Pembatasan ini diperlukan bukan saja untuk dapat menetapkan lebih dahulu segala sesuatu yang diperlukan untuk pemecahannya, tenaga, waktu, ongkos dan lain-lain yang timbul dari rencana itu.
Dalam rangka menghindari kemungkinan yang dapat menghambat jalannya penelitian, yang disebabkan karena luasnya topik pembahasan tentang makna kata, maka masalah yang akan diteliti hanya terbatas kepada makna kata denotasi dan konotasi saja.
D. Rumusan Masalah
Rumusan masalah selalu beranjak dari adanya masalah yang dihadapi, serta upaya penyelesaiannya. Seorang peneliti selalu ingin tahu terhadap masalah yang akan diteliti. Untuk memecahkan suatu masalah, seorang peneliti harus mengetahui akar masalah apa yang terdapat dalam penelitian tersebut.
Dalam konteks di atas, Arikunto (1998: 51) mengatakan bahwa ”Problematik penelitian adalah bagian pokok dari suatu kegiatan penelitian. Langkahnya disebut perumusan masalah atau perumusan problematik.”
Berdasarkan pendapat di atas, maka rumusan masalah yang akan diteneliti yaitu: Bagaimana kemampuan menentukan makna kata dalam sebuah wacana siswa kelas X SMA Negeri I Salapian Tahun Pembelajaran 2009/2010.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah sesuatu yang menjadi sasaran dari setiap penelitian dan berfungsi sebagai pemandu terhadap kegiatan penelitian. Tujuan sangat penting dirumuskan sebelum suatu kegiatan mulai dilaksanakan, hal ini sesuai dengan pendapat Surakhmad (1990: 32) yang mengatakan bahwa “Setiap penelitian harus berisi lebih dahulu tentang tujuan. Sebab dengan adanya tujuan, penulis mampu mengarahkan pemikiran pembaca serta menempatkan uraian-uraian itu dalam proporsi yang wajar.”
Sedangkan menurut Ali (1982: 9) yang mengatakan:
Tujuan penelitian sangat besar pengaruhnya terhadap komponen ataupun elemen penelitian lain terutama metode teknik, alat ataupun generalisasi yang diperoleh. Oleh sebab itu ketajaman seseorang dalam merumuskan tujuan penelitian sangat mempengaruhi keberhasilan penelitian yang dilaksanakan. Karena tujuan penelitian pada dasarnya adalah titik anjak dan titik unjuk yang akan dicapai seseorang melalui kegiatan penelitian yang dilakukannya.
Berangkat dari dua pendapat di atas, maka penulis mencoba mengadakan sebuah penelitian dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan menentukan makna kata dalam sebuah wacana siswa kelas X SMA Negeri I Salapian Tahun Pembelajaran 2009/2010.
F. Manfaat Penelitian
Segala sesuatu yang kita kerjakan, terutama dalam masalah penelitian secara sederhana akan selalu membawa manfaat. Demikian halnya dengan penelitian pendidikan, juga diharapkan dapat memberi masukan bagi pengembangan sistem pendidikan yang ada. Hal ini sesuai dengan pendapat Ali (1982: 9):
Penelitian pendidikan sangat besar sekali manfaatnya bagi pengembangan sistem pendidikan maupun untuk kepentingan praktis dalam penyelenggaraan. Dengan demikian dapat diketahui hal-hal yang berhubungan dengan berbagai faktor, baik yang menghambat maupun yang menunjang pengembangan pendidikan.
Berangkat dari pendapat di atas, maka manfaat yang bisa diambil dari hasil penelitian ini adalah:
1. Memberikan informasi tentang tingkat kemampuan siswa kelas X SMA Negeri I Salapian Tahun Pembelajaran 2009/2010 dalam menentukan makna kata dalam sebuah wacana
2. Bahan masukan bagi para guru, khususnya guru bahasa Indonesia agar dapat mengetahui kemampuan siswanya dalam menentukan makna kata dalam sebuah wacana.
BAB II
LANDASAN TEORETIS
A. Kerangka Teoretis
Kerangka teoretis yang digunakan dalam penelitian adalah garis besar struktur teori yang akan digunakan mendukung penelitian dalam menemukan data dan menganalisis serta menarik kesimpulan pandangan atau pendapat yang telah dikemukakan oleh para ahli, disusun dan dipadukan untuk sebuah penelitian. Seperti yang telah diutarakan pada bagian terdahulu, penelitian ini hanya membahas kemampuan menentukan makna kata dalam sebuah wacana.
Untuk mengembangkan kemampuan dalam menguasai Tata Bahasa Indonesia, salah satu upaya yang ditempuh adalah melalui pendidikan. Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Dalam prespektif Islam, menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban bagi setiap manusia. Bahkan Allah SWT telah menegaskan akan mengangkat derajat orang-orang yang menuntut ilmu, sesuai dengan firman-Nya:
Artinya: Allah akan meninggikan orang-oranng yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadalah, 58: 11)
Kecuali itu orang yang menuntut ilmu juga berlangsung seumur hidup (long life education). Hal ini dapat dilihat dari hadis Rasul yang berbunyi:
Artinya: “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”.
Dari teks Al-Quran dan Hadis di atas jelaslah bahwa pendidikan sangat penting bagi umat manusia. Karena dengan pendidikan kita dapat menerima ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, Bahasa Indonesia sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, juga harus dipelajari dengan baik.
Dengan demikian, dari ayat di atas jelas Allah SWT menganjurkan supaya manusia memiliki ilmu pengetahuan, maka penulis dapat melakukan sebuah penelitian. Sehubungan dengan penelitian ini, ayat di atas merupakan dasar bagi penulis untuk mendeskripsikan teori-teori yang akan diteliti oleh penulis mengenai kemampuan menentukan makna kata dalam sebuah wacana siswa kelas X SMA Negeri I Salapian Tahun Pembelajaran 2009/2010.
1. Pengertian Kemampuan
Istilah kemampuan berasal dari kata dasar “mampu” yang mendapat konfiks “ke-an”. Menurut Poerwadarminta (1984: 682) dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia “mampu” berarti kuasa, sanggup melakukan sesuatu, sedangkan “kemampuan” berarti kesanggupan, kecekatan dan kekuatan untuk melakukan sesuatu.
Tiap individu mempunyai kemampuan sendiri, kemampuan itu bisa datang sendiri, atau pembawaan dari lahir dan faktor lingkungan adalah apabila seseorang diasuh atau dididik terampil dalam suatu bidang atau lapangan, maka ia mampu melakukan kegiatannya dalam bidang tersebut. Kemampuan dalam hal ini adalah kesanggupan menentukan makna kata dalam sebuah wacana.
2. Pengertian Makna Kata
a) Pengertian Makna
Sehubungan dengan pengertian kata makna, Poerwadarminta dalam Guntur (1986: 9) dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia terdapat keterangan sebagai berikut:“makna :arti atau maksud (sesuatu kata); mis. Mengetahui lafal dan maknanya:Bermakna: berarti; mengandung arti yang penting (dalam); berbilang, mengandung beberapa arti; Memaknakan: menerangkan arti (maksud) sesuatu kata dan sebagainya.
Sedangkan menurut Kridalaksana (2001: 132) ”Makna adalah pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia.”
Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa makna adalah arti atau maksud atau pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia.
b) Pengertian Kata
Menurut Kridalaksana (2001: 98) ”Kata adalah morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas.” Sementara itu, menurut Waridah (2008: 264) ”Kata adalah satuan bahasa terkecil yang dapat berdiri sendiri dan membentuk suatu makna bebas.”
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa ”Kata adalah morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan bahasa terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas atau berdiri sendiri dan membentuk suatu makna bebas.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian makna kata adalah arti atau maksud dari morfem atau kombinasi morfem yang yang diujarkan sebagai bentuk yang bebas.
3. Pengertian Makna Denotasi
Menurut Waridah (2008: 294) menyatakan bahwa “Makna denotasi adalah makna suatu kata sesuai dengan konsep asalnya, apa adanya, tanpa mengalami perubahan makna atau penambahan makna.”
Sedangkan Tarigan (1988: 59) menyatakan “Makna denotasi adalah batasan kamus atau definisi utama sesuatu kata, sebagai lawan daripada konotasi-konotasinya atau makna-makna yang ada kaitannya dengan itu.”
Berdasarkan kedua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa makna denotasi adalah makna yang tanpa mengalami perubahan makna atau penambahan makna dan sebagai lawan daripada makna konotasi-konotasinya.
4. Pengertian Makna Konotasi
Menurut Waridah (2008: 294) “ Makna konotasi adalah makna suatu kata berdasarkan perasaan atau pemikiran orang lain”. Hal senada diungkapkan Kosasih (2003: 147) bahwa “ Makna konotasi adalah makna yang berdasarkan perasaan atau pikiran seseorang.”
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa makna kata konotasi adalah makna suatu kata berdasarkan perasaan atau pemikiran orang lain atau pikiran seseorang.
5. Ragam konotasi
Konotasi dapat juga di sebut sebagai nilai rasa, ada banyak ragam konotasi yang terdapat dalam bahasa Indonesia yang kita pergunakan sehari-hari. Dalam kehidupan, kita semua maklum bahwa seseorang itu di suatu pihak berdiri sendiri dan di pihak lain adalah sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu konotasi pun ada yang bersifat individual dan ada pula yang bersifat kolektif. Konotasi kolektif dapat digolongkan kepada beberapa macam, yakni:
a. Konotasi Tinggi
Sudah merupakan hal yang biasa terjadi bahwa kata-kata sastra dan kata-kata klasik lebih indah dan anggun terdengar oleh telinga umum, oleh karena itu tidak perlu heran bahwa kata-kata seperti itu mendapat konotasi atau nilai rasa tinggi. Di bawah ini ada sejumlah kata yang mengandung nilai rasa tinggi yang berada di sebelah kiri:
aksi ‘gerakan’
aktif ‘giat’
bahtera ‘perahu, kapal’
cakrawala ‘lengkung langit’
drama ‘sandiwara’
geologi ‘ilmu tanah’
b. Konotasi Ramah
Dalam pergaulan dan pembicaraan kita sehari-hari antara sesama anggota masyarakat, biasa kita pakai bahasa daerah ataupun dialek untuk manyatakan hal-hal yang langsung berhubungan dengan kehidupan. Dengan demikian terjadilah bahasa campuran yang kadang-kadang terasa lebih ramah daripada bahasa Indonesia sebab dalam hal ini kita merasa lebih akrab, dapat saling merasakan satu sama lain, tanpa terasa adanya kecanggungan dalam pergaulan.
Di bawah ini contoh dari kata-kata yang terasa mengandung konotasi ramah yang berada di sebelah kanan:
akur ‘cocok’ sesuai’
berabe ‘susah’
cialat ‘celaka’
cicil ‘angsur’
kecele ‘kecewa’
mangkir ‘absen,tidak hadir’
c. Konotasi Berbahaya
Kata-kata yang berkonotasi berbahaya ini erat sekali hubungannya dengan kepercayaan masyarakat kepada hal-hal yang bersifat magis. Dalam saat-saat tertentu di kehidupan masyarakat, kita harus berhati-hati mengucapkan suatu kata supaya jangan terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, hal-hal yang mendatangkan bahaya.
Dengan perkataan lain adalah tabu mengucakan beberapa kata pada saat-saat tertentu. Contohnya pada saat kita berburu ke hutan, maka sangatlah terlarang atau tabu menyebut kata harimau, sebab kalau disebut mungkin nanti bertemu dengan harimau. Untuk menghindari hal tersebut maka dipakailah kata nenek.
Dalam hal ini kata harimau mempunyai konotasi berbahaya, sedangkan kata nenek mengandung nilai rasa tidak berbahaya. Berikut ini adalah beberapa contoh dari kata-kata yang dianggap tabu untuk yang di sebelah kiri dan kata yang tidak berbahaya di sebelah kanan:
ular ‘tali, ikat pinggang Raja Sulaiman’
tikus ‘putri, si ekor panjang’
berak ‘buang air besar’ ke belakang’
kencing ‘buang air kecil’
d. Konotasi Tidak Pantas
Dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat terdapat sejumlah kata yang jika diucapkan tidak pada tempatnnya, kata-kata tersebut mendapat nilai rasa tidak pantas. Pemakaian atau pengucapan kata-kata yang berkonotasi tidak pantas ini dapat saja menyinggung perasaan, terlebih-lebih bila orang yang mengucapkannya lebih rendah martabatnya daripada teman bicara.
Demikianlah dalam praktek sehari-hari, sangat tidak pantas dan kurang sopan mengucapkan kata-kata yang berada pada lajur kiri di bawah ini, pada lajur kanan diterakan sinonim-sinonimnya yang mengandung konotasi yang lebih pantas dan lebih sopan yang berada di sebelah kanan:
beranak ‘bersalin’
bunting ‘mengandung, duduk perut’
mampus ‘meninggal, berpulang’
pelacur ‘tuna susila’
e. Konotasi Tidak Enak
Ada sejumlah kata yang karena biasa dipakai dalam hubungan yang tidak atau kurang baik, maka tidak enak didengar oleh telinga dan mendapat nilai rasa tidak enak. Kata-kata semacam ini disebut dengan istilah Latin ‘in malem partem’
Berikut ini adalah contoh kata-kata yang berkonotasi tidak enak yang berada di sebelah kiri:
orang udik ‘orang desa’
keluyuran ‘jalan-jalan’
koyok ‘banyak bicara’
cingcong ‘ulah’
otak udang ‘bodoh’
f. Konotasi Kasar
Ada kalanya kata-kata yang dipakai oleh rakyat jelata terdengar kasar dan mendapat nilai rasa kasar. Biasanya kata-kata seperti itu berasal dari suatu dialek. Berikut ini adalah sejumlah kata yang berkonotasi kasar yang berada di sebelah kiri dan konotasi tidak kasar di sebelah kanan:
lu ‘kamu’
tak becus ‘tak mampu’
babu ‘pembantu rumah tangga’
Uraian di atas adalah menurut pendapat Tarigan (1986: 59 s/d 78) mengenai ragam konotasi yang terbagi menjadi beberapa macam yaitu: konotasi tinggi, konotasi ramah, konotasi berbahaya, konotasi tidak pantas, konotasi tidak enak, dan konotasi kasar, tepatnya mulai halaman 12 sampai pada halaman 15.
6. Pengertian Wacana
Menurut Moeliono dkk (2003: 419) “Rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain itu membentuk kesatuan yang dinamakan wacana”. Dan menurut Chaer (2002: 267) “Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hirarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar”.
Sedangkan menurut Kridalaksana (2001: 231):
Wacana adalah satuan bahasa terlengkap, hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan (novel, buku, seri, ensiklopedia, dsb), paragraf , kalimat atau kata yang membawa alamat yang lengkap.
Dari ketiga pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa wacana adalah rentetan kalimat atau satuan bahasa yang lengkap sehingga dalam hirarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar yang direalisasikan dalam bentuk karangan (novel, buku, seri, ensiklopedia, dsb), paragraf, kalimat atau kata yang membawa alamat yang lengkap.
B. Kerangka Konseptual
Dari kerangka teoretis dapat dilihat bahwa untuk mengembangkan kemampuan dalam menguasai Tata Bahasa Indonesia, salah satu upaya yang ditempuh adalah melalui pendidikan. Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Untuk memahami makna kata dalam sebuah wacana, siswa harus dididik agar mengetahui makna kata dengan baik.
Makna adalah arti atau maksud atau pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia.
Kata adalah arti atau maksud dari morfem atau kombinasi morfem yang yang diujarkan sebagai bentuk yang bebas.
Wacana adalah rentetan kalimat atau satuan bahasa yang lengkap sehingga dalam hirarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar yang direalisasikan dalam bentuk karangan (novel, buku, seri, ensiklopedia, dsb), paragraf, kalimat atau kata yang membawa alamat yang lengkap.
C. Pertanyaan Penelitian
Adapun pertanyaan yang akan diuji dalam penelitian ini adalah : Bagaimanakah kemampuan menentukan makna kata dalam sebuah wacana siswa kelas X SMA Negeri I Salapian Tahun Pembelajaran 2009 / 2010?
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Berdasarkan judul penelitian yang penulis tetapkan yaitu “Kemampuan menentukan makna kata dalam sebuah wacana siswa kelas X SMA Negeri I Salapain.” maka dipilih lokasi penelitian yang bertempat pada SMA Negeri I Salapian.
Pemilihan lokasi ini penulis lakukan berdasarkan pertimbangan sebagai berikut:
a. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini sepengetahuan penulis belum pernah diteliti di sekolah tersebut.
b. Lokasi penelitian ini tidak jauh dari tempat tinggal penulis, jika ditinjau dari segi biaya, tenaga, dan kemudahan, maka efektifitas dan efisiensi penelitian bisa dicapai.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini direncanakankan selama lima bulan, terhitung dari bulan Januari 2010 sampai bulan Mei 2010. Untuk lebih jelasnya tentang rincian waktu penelitian, dapat dilihat dalam tabel berikut:
TABEL I
RINCIAN WAKTU PENELITIAN
No Jenis Kegiatan Bulan / Minggu ke
Januari Februari Maret April Mei
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Penulisan Proposal
2 Bimbingan Proposal
3 Seminar Proposal
4 Perbaikan Proposal
5 Surat izin penelitian
6 Pengumpulan data
7 Pengolahan data
8 Penulisan skripsi
9 Bimbingan skripsi
10 Persetujuan skripsi
B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Setiap peneliti yang akan mengadakan penelitian terlebih dahulu membuat rencana penelitian. Salah satu yang termasuk dalam perencanaan itu adalah menyangkut objek penelitian. Masalah penelitian berkaitan erat dengan objek penelitian dan seluruh objek yang diteliti biasanya disebut populasi penelitian.
Arikunto (1998: 115) mengatakan bahwa “ Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian, apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, penelitiannya merupakan penelitian populasi.”
Berdasarkan pendapat di atas, maka yang menjadi populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri I Salapian Tahun Pembelajaran 2009/2010 yang terdiri dari 4 kelas sebanyak 188 orang.
TABEL 2
JUMLAH POPULASI
No. Kelas Jumlah Populasi
1 X-A 48 orang
2 X-B 45 orang
3 X-C 48 orang
4 X-D 47 orang
Jumlah 188 orang
2. Sampel
Jumlah populasi 188 orang dapat dikatakan telah besar karena itu penulis menetapkan sampel berpedoman kepada Arikunto (1993: 107) yang menemukan bahwa: “Untuk sekedar ancar-ancar maka apabila subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitan populasi. Selanjutnya jika subjeknya besar dapat diambil antara 10-15 % atau 20-25 % atau lebih”.
Berdasarkan pendapat di atas, maka peneliti mengambil 25 % dari jumlah siswa yang ada yaitu sebanyak 47 orang siswa yang diperoleh secara acak (random sampling).
Adapun teknik yang digunakan untuk menetapkan sampel ini adalah teknik acak atau random dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Mengurutkan nama-nama siswa sebagai populasi.
b. Membuat gulunga kertas yang diberi nomor setiap gulungan sesuai dengan nomor populasi.
c. Mengambil gulungan kertas dari satu tempat sebanyak 47 gulungan.
Nomor-nomor yang keluar setelah diundi disesuaikan dengan nomor populasi dan ditetapkan sebagai anggota sampel. Untuk lebih jelas pengambilan sampel dapat dilihat pada tabel berikut:
TABEL 3
PENGAMBILAN SAMPEL
No Kelas Jumlah Populasi Jumlah Sampel
1
2
3
4 X – A
X – B
X – C
X – D 48 orang
45 orang
48 orang
47 orang 7 orang
5 orang
12 orang
23 orang
Jumlah 188 orang 47 orang
C. Metode Penelitian
Agar penelitian memperoleh hasil yang valid dan sesuai dengan tujuan, maka diperlukan data yang objektif. Untuk mendapatkan data yang objektif ini diperlukan metode penelitian yang tepat. Oleh sebab itu, sesuai dengan bingkai masalah dalam penelitian ini, maka metode yang dipakai adalah metode deskiptif, yaitu metode penelitian yang digunakan untuk mendeskripsikan fenomena yang diteliti.
Hasil ini sesuai dengan pendapat Surakhmad (1990: 139) yang mengatakan bahwa ”Metode merupakan cara utama yang digunakan untuk mencapai tujuan, misalnya untuk menguji serangkaian hipotesis dengan menggunakan alat teknik tertentu. Cara utama itu digunakan setelah penyelidikan memperhitungkan kewajarannya ditinjau dari tujuan serta penyelidikan”.
Pendapat di atas diperkuat oleh pendapat Ali (1982: 120) yang mengatakan :
”Metode penelitian deskriptif digunakan untuk berupaya memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Dilakukan dengan menempuh langkah-langkah menyimpulkan klasifikasi, analisis pengolahan data, membuat kesimpulan dan laporan, dengan tujuan untuk menggambarkan tentang suatu keadaan secara objektif dalam suatu deskriptif situasi.”
Berdasarkan beberapa pendapat pakar penelitian di atas, maka metode penelitian yang sesuai digunakan dengan penelitian ini adalah metode deskriptif, karena dianggap relevan dengan permasalahan yang akan diteliti.
D. Variabel Penelitian
Variabel penelitian ini adalah variabel tunggal yakni Kemampuan Menentukan Makna kata dalam sebuah wacana siswa kelas X SMA Negeri I Salapian Tahun Pembelajaran 2009/2010 sebanyak satu buah wacana.
E. Instrumen Penelitian
Untuk memperoleh hasil yang optimal dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tes yaitu tes pilihan berganda yang disusun terdiri atas 4 pilihan jawaban yaitu a, b, c, dan d. Jika benar skornya 1 dan jika salah skornya 0, jumlah soal sebanyak 20 butir soal. Pertanyaan yang digunakan mengenai makna kata dalam wacana.
F. Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis data penelitian ini, adapum langkah-langkahnya sebagai berikut:
a. Menghitung skor setiap siswa dengan menjumlahkan jawaban yang benar saja.
b. Data atau skor yang diperoleh setiap siswa dideskripsikan dalam sebuah tabel.
c. Mencari nilai rata-rata skor atau mean.
Keterangan :
M = Besarnya rata – rata yang dicari
Σ X = Jumlah nilai
N = Jumlah peserta tes (sampel )
d. Menentukan Standar deviasi (SD) skor.
Keterangan :
SD = Standar deviasi
X = Jumlah nilai
N = Sampel
e. Menghitung skor mentah menjadi nilai akhir dengan menggunakan Skala Sigma 1 - 10
f. Menentukan kemampuan siswa dngan membandingkan nilai rata-rata dengan patokan nilai yang dikemukakan Arikunto (2005: 249)
9 – 10 = sangat baik
7 – 8 = baik
6 = cukup
5 = kurang
≤ 4 = kurang sekali
Lampiran I
Dalam kehidupan ini terkadang kita perlu seperti bunglon, hal tersebutlah yang dilakukan Andi apabila ia berada di perantauan. Andi adalah laki-laki yang sangat suka membeo apabila dia berkomunikasi dengan orang-orang di tempat ia tinggal. Apabila ada hal yang menurut ia menguntungkan, ia tidak perduli walaupun merugikan bagi orang lain. Dia sering kongkalikong dengan temannya demi keuntungan mereka. Apabila perbuatannya diketahui oleh polisi, dia tidak pernah khawatir karena hanya dengan memberi amplop, dia mendapat kebijaksanaan dari polisi. Saat Andi melihat Dila, seorang wanita molek yang wajahnya bagaikan rembulan sifat Andi sedikit berubah, kata-katanya yang tajam berubah menjadi manis bagai madu.
Walaupun orang lain mengatakan Dila kampungan karena penampilannya, tetapi Andi terlanjur jatuh hati kepada Dila. Sifat Andi dan Dila sangat jauh berbeda, Andi seorang laki-laki yang tamak dan jahanam, tetapi Dila berkepribadian baik. Selama ini pekerjaan Andi suka memalak orang bersama algojo yang ikut bersamanya. Bahkan Ibunya pun tak dihormatinya, ia menganggap ibunya seperti babu di rumahnya sendiri. Setelah beberapa lama menjalin hubungan bersama Dila, Andi mempersunting Dila dengan membawa segerombolan teman dan keluarganya. Tetapi ayah Dila tidak menerima lamaran Andi, karena Andi banyak cingcong. Ayah Dila menganggap Andi pesong karena berani mempersunting Dila dengan berpenampila semrawut dan loyo.
Petunjuk mengerjakan soal :
1. Tulislah terlebih dahulu nama, kelas anda pada lembaran yang telah tersedia!
2. Bacalah wacana dengan cermat sebelum menentukan jawaban yang tepat!
PILIHAN BERGANDA
Pilihlah 1 jawaban yang benar dengan memberi tanda silang (x) pada salah satu jawaban yang tersedia yaitu a, b, c, dan d pada soal di bawah ini!
1. Makna kata bunglon pada wacana di atas menyatakan makna.....
a. binatang mamalia b. dapat menyesuaikan diri
c. binatang berubah warna d. sifat serakah
2. Makna kata membeo pada wacana di atas menyatakan makna.....
a. meniru-niru perkataan orang lain b. suka berbicara
c. ramah d. suka berdusta
3. Makna kata kongkalikong pada wacana di atas menyatakan makna.....
a. kerjasama b. kesepakatan c. keputusan d. keserasian
4. Makna kata amplop pada wacana di atas menyatakan makna.....
a. sampul surat b. tempat uang
c. uang pelicin d. sampul buku
5. Makna kata kebijaksanaan pada wacana di atas menyatakan.....
a. pengampunan b. sesuai dengan harpan c. harapan d. santunan
6. Makna kata rembulan pada wacana di atas menyatakan makna.....
a. indah b. bola langit c. cantik d. bulat
7. Makna kata tajam pada wacana di atas menyatakan makna......
a. kata-kata yang baik b. kata-katayang sopan
c. kata-kata yang menusuk d. kata-kata yang kasar
8. Makna kata manis pada wacana di atas menyatakan makna.....
a. indah b. sejuk
c. menyenangkan d. bisa saja
9. Makna kata kampungan pada wacana di atas menyatakan makna.....
a. orang udik b. orang jaman dahulu
c. berpenampilan seksi d. pemalu
10. Makna kata tamak pada wacana di atas menyatakan makna.....
a. serakah b. suka menolong c. baik hati d. suka merampas
11. Makna kata jahanam pada wacana di atas menyatakan makna......
a. sifat bijaksana b. sifat suka menolong
c. sifat yang baik d. sifat jahat
12. Makna kata memalak pada wacana di atas menyatakan makna.....
a. merampas b. memeras c. merampok d. menuding
13. Makna kata algojo pada wacana di atas menyatakan makna.....
a. pengawal b. orang bodoh c. orang pintar d. pemabuk
14. Makna kata babu pada wacana di atas menyatakan makna.....
a. pembantu b. orang yang berkuasa
c. orang yang bijaksana d. penyelidik
15. Makna kata mempersunting pada wacana di atas menyatakan makna.....
a. memuji b. memikat c. melamar d. mendatangi
16. Makna kata segerombolan pada wacana di atas menyatakan makna.....
a. beramai-ramai b. sepenggal c. serentak d. sendiri
17. Makna kata cingcong pada wacana di atas menyatakan makna.....
a. ulah b. banyak bicara c. sombong d. santun
18. Makna kata pesong pada wacana di atas menyatakan makna.....
a. gila b. sehat c. baik d. bersemangat
19. Makna kata semrawut pada wacana di atas menyatakan makna.....
a. compang-camping b. culun c. rapi d. acak-acakan
20. Makna kata loyo pada wacana di atas menyatakan makna.....
a. lemah sekali b. tegap c. tegar d. senang
KUNCI JAWABAN TES KEMAMPUAN
MENENTUKAN MAKNA KATA
1. B 11. D
2. A 12. B
3. A 13. A
4. C 14. A
5. D 15. C
6. A 16. A
7. C 17. A
8. A 18. A
9. A 19. D
10. A 20. A
KEMAMPUAN MENENTUKAN MAKNA KATA DALAM SEBUAH WACANA SISWA KELAS X SMA NEGERI I SALAPIAN TAHUN PEMBELAJARAN 2009/2010
PROPOSAL
Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan ( S.Pd )Pada JurusanPendidikan Bahasa dan Seni Program Studi pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
OLEH
ROHANA BR. SURBAKTI
0602040035
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
MEDAN
2010
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI i
BAB I : PENDAHULUAN 1
A. Latar Balakang Masalah 1
B. Identifikasi Masalah 2
C. Pembatasan Masalah 4
D. Rumusan Masalah 4
E. Tujuan Penelitian 5
F. Manfaat Penelitian 6
BAB II : LANDASAN TEORETIS 7
A. Kerangka Teoretis 7
1. Pengertian Kemampuan 9
2. Pengertian Makna Kata 9
3. Pengertian Makna Denotasi 10
4. Pengertian Makna Konotasi 11
5. Ragam Konotasi 11
6. Pengertian Wacana 15
B. Kerangka Konseptual 16
C. Pertanyaan Penelitian 17
BAB III : METODE PENELITIAN 18
A. Lokasi dan Waktu Penelitian 18
B. Populasi dan Sampel 19
C. Metode Penelitian 22
D. Variabel Penelitian 22
E. Instrumen Penelitian 23
F. Teknik Analisis Data 23
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad. 1982. Penelitian Pendidikan dan Strateg. Bandung: Angkasa
Alwi, Hasan. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Arikunto, Suharsemi. 1993. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Gramedia
_________________. 1998. Prosedur Penelitian. Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: P.T. Rineka cipta
Chaer, Abdul. 2002. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta
Departemen Agama RI. 1985. Al-Quran dan Terjamahannya. Jakarta
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1997. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, Cetakan V
Keraf, Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Ende Flores: Nusa Indah
Kosasih. 2003. Ketatabahasaan dan Kesusastraan. Bandung: Yrama Widya
Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Moeliono, Anton dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Poerwadarminta, W.J.S. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Surakhmad, Winarno. 1990. Dasar dan Teknik Research. Bandung: Tarsito
Tarigan, Henry Guntur. 1986. Pengajaran Semantik. Bandung: Angkasa
_________________. 1988. Pengajaran Analisis Kesalahan Bahasa. Bandung: Angkasa
Waridah, Ernawati. 2008. Ejaan yang Disempurnakan dan seputar Kebahasa-Indonesiaan. Jakarta: Kawan
Kamis, 20 Mei 2010
Proposal Skripsi Rohana
Spirit of Motivation
Selangkah ke alam perjuangan, berarti selamanya dalam kepahitan, biarlah menangis, terluka, kecewa karena Allah dari pada mati tanpa mujahadah. Kita tak sanggup selamanya terluka, tapi ingatlah setiap tetesan darah dari luka dan air mata, itulah mahar kita menuju surga. Bila ditanya kenapa perjuangan itu pahit, jawabnya karena surga itu manis. Semoga kita senantiasa tabah dalam perjuangan di jalannya.
Minggu, 16 Mei 2010
puisi
hening malam
kurespi
jungnya pii
siang mlam
berdoa tuk ridhony ilahi...
kasihnya ibu
tulus sejati seperti rasul
cintanya pada ilahi
ikhlas
tulus suci abdi
Rabu, 05 Mei 2010
Kreatifitas Strategii Belajar Mengajar

Strategi belajar mengajar menurut sulastri
Strategi belajar mengajar pada dasarnya adalah mempelajari bagaimana cara, teknik, metode yang digunakan seorang guru dalam melakukan proses belajar mengajar di kelas. Guru harus lebih kreatif untuk mengembangkan kreatifitas dan bakat anak dengan terlebih dahulu mengetahui potensi yang mereka miliki. Tak hanya memahami anak, seorang guru wajiblah menjadikan dirinya sebagai suri tauldan yang baik. Dalam hal ini, guru juga kreatif mengembangkan potensi dalam dirinya agar anak terinspirasi untuk menjadi kreatif seperti gurunya.
Dalam belajar mengajar, ada banyak metode yang bisa digunakan untuk meningkatkan kreatifitas anak. Guru juga bisa memodifikaasikannya dalam satu kali pertemuan dengan berbagai metode. Selain mengurangi rasa bosan anak, modifikasi metodde pembelajaran dapat bermanfaat sebagai sarana pengembangan kreatifitas. Diantara metode pembelajaran yang dimakasud adalah diskusi, snow ball trawing, mind map, performans, karya wisata, dll…
Selamat mencoba.
Hardiknas Pengajaran Kecurangan
.jpg)
Hardiknas atau hari pendidikan nasional merupakan salah satu bentuk refleksi terhadap dunia pendidikan Indonesia. Berkaitan dengan pendidikan dan UN (Ujian Nasional) yang diselenggarakan pemerintah secara serentak beberapa waktu lalu, dosen BSI UMSU Aisyah Aztry memberikan komentar tentang UN dalam kuliahnya Sabtu (1/4) di Gedung B Ruang 201 UMSU pukul 13.00 WIB,”Bagaimana pendapat kalian tentang pelaksaan UN? Apakah setuju dengan catatan….atau setuju tanpa catatan…”di depan seluruh mahasiswanya. Beliau juga memaparkan usaha pemerintah menangani kasus pahlawan tanpa jasa tidaklah serius. Hal tersebut dibuktikan dari bannyaknya kasus sertifikasi yang tidak professional.
“sertifikasi yang diadakan pemerintah juga masih terdapat banyak kecurangan. Banyak guru yang baru mengajar beberapa tahun saja sudah langsung dapat sertifikasi, sedangkan yang sudah lama dan berpengalaman masih seperti itu-itu saja. Kita tidak bisa bergerak kalo tidak ada orang dalam. Jadi di dunia pendidikan juga ada mafia kasus.” Demikian penjelasnya terhadap tanggapan yang telah disampaikan mahasiswanya. Beliau sependapat dengan mahasiswanya yang mengatakan setuju diadakan UN dengan catatan untuk mengukur mutu pendidikan Indonesia, bukan menjadi tolok ukur keberhasilan siswa. Pasalnya sumatera utara termasuk provinsi lima besar yang meluluskan siswa UN tahun ini. Padahal penyelenggaraan UN sekarang semakin banyak menimbulkan kecurangan, baik dari siswa itu sendiri maupun guru yang mengajar di sekolah yang bersangkutan. Lebih parah lagi, pemerintah kabupaten juga tidak mau kalah menolong siswa dalam berbuat curang. Demikian cermin pendidikan Indonesia. Pendidikan yang mengajarkan ketidakjujuran
Rabu, 28 April 2010
proposal pnelitian

HUBUNGAN PENGUASAAN TEORI PARAGRAF DENGAN KEMAMPUAN MENENTUKAN IDE POKOK SETIAP PARAGRAF DALAM WACANA SISWA KELAS VIII
SMP MUHAMMADIYAH 21 SERBALAWAN
T.P 2009/2010
PROPOSAL
Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat-syarat
Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan ( S.Pd )Pada Jurusan
Pendidikan Bahasa dan Seni Program Studi
Bahasa dan Sastra Indonesia
OLEH DESSY CUMALASARI SARAGIH
0602040034
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
MEDAN
2010
DAFTAR ISI i
BAB I : PENDAHULUAN 1
A. Latar Balakang Masalah 1
B. Identifikasi Masalah 2
C. Pembatasan Masalah 3
D. Rumusan Masalah 3
E. Tujuan Penelitian 4
F. Manfaat Penelitian 4
BAB II : LANDASAN TEORETIS 5
A. Kerangka Teoretis 5
1. Pengertian Penguasaan Teori Paragraf 6
2. Rangka atau Struktur Paragraf 7
3. Syarat-syarat Paragraf 7
4. Pengertian Kemampuan 8
5. Ide Pokok Paragraf 10
6. Pengertian Wacana 14
B. Kerangka Konseptual 15
C. Hipotesis 16
BAB III : METODE PENELITIAN 17
A. Lokasi dan Waktu Penelitian 17
B. Populasi dan Sampel 18
C. Metode Penelitian 20
D. Variabel Penelitian 21
E. Instrumen Penelitian 21
F. Teknik Penelitian 22
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bahasa sebagai alat komunikasi, memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Dengan perantaraan bahasa kita dapat menyampaikan ide, gagasan, dan perasaan kita kepada orang lain. Kita dapat diterima sebagai anggota masyarakat karena adanya kesepakatan menggunakan bahasa tersebut sebagai alat komunikasi.
Sesuai dengan keperluan yang sifatnya komunikatif manusia telah berusaha dan telah berhasil menyalin wujud bahasa ke dalam bentuk huruf atau tulisan. Karena itu, untuk membedakan wujud diantara keduanya digunakanlah istilah bahasa lisan dan bahasa tulis.
Pemakaian bahasa Indonesia pada suasana formal menuntut penerapan kaidah bahasa dalam berkomunikasi. Untuk itu dilaksanakan pengajaran Bahasa Indonesia mulai dari tingkat dasar hingga ke perguruan tinggi dengan tujuan pemakai bahasa terampil berbahasa Indonesia.
Sebuah paragraf terdiri dari kalimat-kalimat yang memperlihatkan kesatuan pikiran atau mempunyai keterkaitan dalam membentuk gagasan atau topik. Gagasan atau topik dalam sebuah paragraf dapat juga disebut dengan ide pokok atau pikiran utama. Untuk menjelaskan satu pikiran utama maka dalam sebuah paragraf terdapat beberapa pikiran penjelas. Dengan kata lain, dalam satu paragraf terdiri dari pikiran utama dan pikiran penjelas. Pikiran utama dalam sebuah paragraf dituangkan ke dalam kalimat utama, dan pikiran penjelas dituangkan ke dalam kalimat penjelas.
Dalam menentukan ide pokok setiap paragraf peserta didik sebaiknya mengetahui apa yang dimaksud dengan paragraf, ciri-ciri paragraf dan rangka atau struktur paragraf terlebih dahulu. Dengan memahami teori paragraf, maka peserta didik mampu menentukan ide pokok setiap paragraf dengan baik dan tepat.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis berniat untuk meneliti bagaimana kemampuan siswa menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana. Kemudian penulis juga ingin mengetahui apakah ada hubungan penguasaan teori paragraf dengan kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010.
B. Identifikasi Masalah
Untuk mempermudah proses penelitian dan menghindari terjadinya penyimpangan dalam penelitian, maka penulis harus mengidentifikasi masalah yang jelas. Sehubungan dengan judul penelitian ini maka yang menjadi identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Penguasaan teori paragraf.
2. Kemampuan menentukan jenis-jenis paragraf.
3. Kemampuan mengidentifikasi ciri-ciri paragraf.
4. Pengetahuan siswa tentang rangka atau struktur sebuah paragraf.
5. Mengetahui letak kalimat utama dalam sebuah paragraf.
6. Kemampuan menentukan ide pokok paragraf.
C. Pembatasan Masalah
Dalam sebuah penelitian diperlukan pembatasan masalah agar permasalahan yang akan diteliti tidak terlalu luas. Oleh karena itu, dalam penelitian ini penulis membatasi masalah pada penguasaan teori paragraf dan kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010.
D. Rumusan Masalah
Masalah yang dijadikan pokok penelitian harus dirumuskan secara jelas dan operasional, sehingga tampak ruang lingkup serta batasan-batasannya. Menurut Ali (1982: 39) “Rumusan masalah adalah deskriptif tentang ruang lingkup masalah yang akan diteliti”.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis merumuskan masalah penelitian ini ke dalam bentuk pertanyaan berikut:
1. Bagaimanakah penguasaan teori paragraf siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010?
2. Bagaimanakah kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010?
3. Apakah ada hubungan penguasaan teori paragraf dengan kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010?
E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mendeskripsikan penguasaan teori paragraf siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010.
2. Untuk mengetahui kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010.
3. Untuk mengetahui hubungan penguasaan teori paragraf dengan kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010.
F. Manfaat Penelitian
Pada dasarnya penelitian diharapkan bermanfaat bagi penulis dan lingkungannya. Demikian juga halnya dengan penelitian ini, diharapkan dapat memberikan masukan bagi pengembangan sistem pendidikan. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk:
1. Bahan masukan bagi pihak yang membutuhkan dan bagi penulis sendiri di dalam menjalankan tugas sebagai seorang pengajar di masa yang akan datang.
2. Bahan masukan bagi guru untuk mengetahui hubungan penguasaan teori paragraf dan kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana.
3. Bahan masukan bagi siswa agar termotivasi untuk belajar mengenai teori paragraf dan mampu menentukan ide pokok setiap paragraf dengan baik.
BAB II
LANDASAN TEORETIS
A. Kerangka Teoretis
Kerangka teoretis merupakan hasil berpikir rasional yang dituangkan secara tertulis dan terdiri dari aspek-aspek yang terdapat dalam masalah atau pendapat yang pernah ditemukan atau disusun para ahli, kemudian dipadukan agar mencapai hasil yang maksimal. Oleh karena itu, kerangka teoretis diperlukan dalam sebuah penelitian untuk mendukung dan memperkuat data-data yang ada.
Kerangka teoretis merupakan rancangan teori-teori yang berhubungan dengan hakikat untuk menjelaskan pengertian variabel yang akan diteliti. Kerangka teoretis diupayakan untuk menjelaskan ciri dari variabel tersebut. Oleh karena itu diperlukan perangkat teori-teori yang relevan dan didukung oleh pendapat beberapa ahli untuk memecahkan masalah yang akan diteliti. Untuk itu diperlukan ilmu pengetahuan sebagaimana sabda Rasulullah saw yang berbunyi:
Artinya:
“Ilmu itu merupakan kehidupan dalam Islam dan tiang iman” (Hadist diriwayatkan Abu Syaih)
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan sangat penting dalam hidup ini. Dan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan adalah dengan cara belajar, karena belajar merupakan proses yang terjadi dalam diri seseorang yang melibatkan kegiatan berpikir. Hal ini berkaitan dengan firman Allah dalam surat Az-Zumar ayat 9 yang berbunyi:
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang mendapat pelajaran hanyalah orang-orang yang mempunyai pikiran.”
(Departemen Agama RI, 1996: 321)
Sehubungan dengan masalah penelitian ini, maka konsep-konsep yang dibahas yaitu berkenaan dengan pengertian penguasaan teori paragraf, kemampuan menentukan ide paragraf dan pengertian wacana. Konsep-konsep itu hanya berupa uraian yang diperoleh melalui berbagai sumber yang dianggap relevan. Kerelevanan itu berupa sumber tertulis yang pernah dikemukakan ahli, dan penulis hanya mengutip dan menyimpulkan saja. Untuk lebih jelasnya akan dipaparkan pada uraian berikut.
1. Pengertian Penguasaan Teori Paragraf
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1984: 529) “Penguasaan berarti perbuatan menguasai atau menguasakan”. Kesanggupan atau pemahaman untuk menggunakan pengetahuan atau kepandaian. Jadi yang dimaksud dengan penguasaan dalam penelitian ini adalah proses atau kesanggupan untuk menguasai teori paragraf.
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1984:1054) “Teori berarti pendapat yang dikemukakan sebagai suatu keterangan mengenai sesuatu peristiwa atau asas-asas dan hukum-hukum umum yang menjadi dasar sesuatu kesenian atau ilmu pengetahuan”. Dan dalam penelitian ini teori yang dimaksud adalah pendapat yang dikemukakan sebagai suatu keterangan tentang asas-asas atau hukum-hukum sebuah paragraf.
Menurut Arifin dan S. Amran Tasai (2006:125) “Paragraf adalah seperangkat kalimat yang membicarakan suatu gagasan atau topik”. Kalimat dalam paragraf memperlihatkan kesatuan pikiran atau mempunyai keterkaitan dalam membentuk gagasan atau topik tersebut.
Sedangkan menurut Akhadiah dkk (1999: 144)
Paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan. Dalam paragraf terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh semua kalimat dalam paragraf tersebut, mulai dari kalimat pengenal, kalimat utama atau kalimat topik, kalimat penjelas sampai pada kalimat penutup. Himpunan kalimat ini saling bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan.
Dari pendapat ahli di atas mengenai pengertian paragraf, maka dapat diambil kesimpulan bahwa paragraf adalah suatu rangkaian beberapa kalimat yang saling berhubungan dan membentuk satu gagasan atau topik.
Berdasarkan uraian di atas mengenai pengertian penguasaan, teori, dan paragraf maka penulis mengambil kesimpulan bahwa penguasaan teori paragraf adalah kesanggupan untuk menguasai suatu keterangan tentang asas-asas atau hukum-hukum suatu rangkaian kalimat yang saling berhubungan dan memiliki satu topik atau gagasan.
2. Rangka atau Struktur Paragraf
Menurut Arifin dan S. Amran Tasai (2006: 134) “Rangka atau struktur sebuah paragraf terdiri atas sebuah kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas”. Dengan kata lain, apabila dalam sebuah paragraf terdapat lebih dari satu kalimat topik, paragraf itu tidak termasuk paragraf yang baik. Setiap kalimat penjelas berisi keterangan mengenai kalimat topik. Antara kalimat topik dan kalimat penjelas harus saling mendukung atau dengan kata lain setiap kalimat saling berkaitan satu dengan yang lainnya sehingga membentuk satu topik tertentu.
Menurut Arifin dan S. Amran Tasai (2006: 134) “Kalimat topik adalah kalimat yang berisi topik yang dibicarakan pengarang. Pengarang menyampaikan inti maksud pembicarannya pada kalimat topik”. Begitu menentukan pikiran utama dan menuangkannya ke dalam kalimat topik, maka penulis terikat pada kalimat topik tersebut sampai akhir paragraf.
Kalimat topik merupakan kalimat utama dalam sebuah paragraf. Kalimat utama bersifat umum. Oleh karena itu kalimat utama membutuhkan kalimat penjelas yang bersifat khusus agar pembaca memahami makna paragraf tersebut.
3. Syarat-syarat Paragraf
Menurut Arifin dkk (2006: 126) “Paragraf yang baik harus memiliki dua ketentuan yaitu kesatuan paragraf dan kepaduan paragraf.” Sedangkan menurut Akhadiah (1999: 149) “Persyaratan paragraf ialah kesatuan, kepaduan, dan kelengkapan.” Berikut akan dijelaskan lebih terperinci mengenai syarat-syarat paragraf menurut Akhadiah (1999: 149) yaitu:
1. Kesatuan
Paragraf dianggap mempunyai kesatuan, jika kalimat-kalimat dalam paragraf itu tidak terlepas dari topiknya atau selalu relevan dengan topik. Semua kalimat topik terfokus pada topik dan mencegah masuknya hal-hal yang tidak relevan.
2. Kepaduan
Syarat kedua yang harus dipenuhi oleh sebuah paragraf ialah koherensi atau kepaduan. Satu paragraf bukanlah merupakan kumpulan atau tumpukan kalimat yang masing-masing berdiri sendiri atau terlepas, tetapi dibangun oleh kalimat-kalimat yang mempunyai hubungan timbal balik. Pembaca dapat dengan mudah memahami dan mengikuti jalan pikiran penulis tanpa hambatan karena adanya loncatan pikiran yang membingungkan. Urutan pikiran yang teratur, akan memperlihatkan adanya kepaduan. Jadi, kepaduan atau koherensi dititikberatkan pada hubungan antara kalimat dengan kalimat.
3. Kelengkapan
Suatu paragraf dikatakan lengkap, jika berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup untuk menunjang kejelasan kalimat topik atau kalimat utama. Sebaiknya suatu paragraf dikatakan lengkap, jika tidak dikembangkan atau hanya diperluas dengan pengulangan-pengulangan.
4. Pengertian Kemampuan
Menurut Tarigan (1990: 1)
Kompetensi atau kemampuan diartikan sebagai pengetahuan apa yang dipunyai pemakai bahasa tentang bahasanya dan dinilai yang merupakan objek penting. Kompetensi adalah pengetahuan yang asli yang dimiliki individu secara tidak sadar, secara implisit, intuatif dan terbatas.
Selanjutnya dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1984: 628) menyatakan bahwa “Kemampuan adalah kesanggupan; kecakapan; kakuatan”. Selain itu, menurut Kridalaksana (2001: 105) “Kemampuan adalah pengetahuan tentang bahasa yang bersifat abstrak dan bersifat tidak sadar”.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa kemampuan adalah kesanggupan atau kecakapan yang dimiliki setiap individu secara tidak sadar, implisit, intuatif dan terbatas yang didapat melalui latihan secara rutin.
Aktivitas yang dilakukan dengan berlandaskan kemampuan maka akan menghasilkan yang terbaik. Tanpa kemampuan maka apa yang diinginkan akan sulit dicapai. Karena kemampuan merupakan batas usaha yang dapat dilakukan oleh perorangan atau kelompok.
5. Ide Pokok Paragraf
Dalam sebuah paragraf terdapat kalimat pokok atau kalimat kunci. Kalimat itu mengandung ide pokok pargaraf. Sedangkan kalimat yang lainnya adalah kalimat pendukung yang menguraikan, menjelaskan, melukiskan, menjabarkan, atau menyajikan contoh-contoh ide pokok.
Tiap penulis mempunyai gaya tersendiri dalam meletakkan ide pokoknya. Menurut Soedarso (2004:66) lazimnya ide pokok berada:
1. di awal paragraf
2. di tengah paragraf
3. di awal dan di akhir paragraf, atau
4. adakalanya di seluruh paragraf.
Kalimat kunci paragraf mengandung pernyataan tentang kata benda atau kata ganti orang yang dominan atau yang menjadi topik paragraf itu. Kemudian akan dijelaskan secara detail dengan kalimat penjelas. Menurut Soedarso (2004: 64) mangatakan bahwa:
Untuk menentukan ide pokok dengan cepat, Anda harus berpikir bersama penulis. Oleh karena itu, hendaklah Anda mengikuti struktur dan gaya penulisannya dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Hendaklah Anda membaca dengan mendesak, dengan tujuan mendapatkan ide pokok, secara cepat. Jangan Anda membaca kata demi kata, tetapi seraplah idenya dan bergeraklah lebih cepat, tetapi jangan kehilangan pengertian.
2. Hendaklah Anda membaca dengan cepat, dan cepatlah Anda mengerti idenya, serta teruskan Anda membaca ke bagian lain.
3. Anda harus dapat melecut diri untuk cepat mencari arti sentral. Hendaklah Anda kurangi kebiasaan menekuni detail kecil. Cepatlah Anda bereaksi terhadap pokok suatu karangan dengan cermat.
4. Anda memang harus melakukan dengan cepat, tetapi Anda harus ingat terhadap kefleksibelan sehingga cara membaca adakalanya diperlambat. Janganlah Anda terlalu cepat membaca di luar hal yang normal, sehingga kehilangan pemahaman.
5. Rasakan bahwa Anda mmembaca lebih cepat daripada biasanya. Yang tidak layak diperhatikan hendaklah Anda pandang dengan cepat dan alihkan perhatian Anda ke pokok. Janganlah Anda terlalu menghiraukan detail kecil. Selesaikan bacaan Anda tanpa membuang waktu.
6. Cepat Anda dapatkan buah pikiran pengarang, tetapi jangan Anda tergesa-gesa hingga mengakibatkan ketegangan. Ketegangan dan ketergesaan tidak akan membantu memahami dengan cepat.
7. Kita perlu berkonsentrasi dengan cepat dan tepat. Terlibat penuh pada ide, gagasan yang tercetak, dan untuk sementara terlepas dari dunia luar.
Menurut Widjono Hs. (2005: 164) penempatan ide pokok paragraf yang tertuang di dalam kalimat utama dalam karangan yang terdiri dari beberapa paragraf dapat dilakukan secara bervariasi, yakni pada awal, tengah, akhir, serta awal dan akhir paragraf.
a. Ide Pokok pada Awal Paragraf
Ide pokok pada awal paragraf pada umumnya berisi pikiran utama yang bersifat umum. Kalimat selanjutnya berisi pikiran penjelas yang bersifat khusus disebut kalimat penjelas. Isi kalimat berupa penjelas, uraian, analisis, contoh-contoh keterangan, atau rincian ide pokok. Paragraf yang ide pokoknya terletak pada awal paragraf disebut dengan paragraf deduktif.
Contoh paragraf deduktif:
Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan orang tua siswa. Pemerintah bertanggung jawab dalam hal menentukan kurikulum, menyediakan gedung sekolah, dan mengangkat staf pengajar serta staf tata laksana sekolah. Masyarakat bertanggung jawab dalam menyediakan lahan untuk membangun sekolah, menjaga keharmonisan dengan cara tidak mengganggu kegiatan belajar di sekolah, dan bersedia dijadikan stakeholder jika sekolah memerlukan bantuannya untuk berpraktik di masyarakat. Begitu pun orang tua siswa, banyak peran dan tanggung jawabnya dalam membiayai anaknya bersekolah.
Paragraf di atas dimulai dengan pernyataan umum: “Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan orang tua siswa.” Kemudian pernyataan umum tersebut dirinci melalui pernyataan-pernyataan penjelas.
b. Ide Pokok di Tengah Paragraf
Paragraf dengan ide pokok di tengah paragraf, berarti di awali dengan kalimat penjelas dan di akhiri kalimat penjelas juga. Menurut Widjono (2005:166) “Paragraf ini menggunakan pola penalaran induktif-deduktif.”
Contoh paragraf induktif-deduktif:
Pasar tanah abang mulai dibanjiri pedagang yang hendak mempersiapkan dagangannya sejak pukul 05.00. Aktivitas jual beli di pasar ini dimulai sekitar pukul 08.00. Barang dagangan sebagian besar berupa produk tekstil, dari yang paling murah dengan satuan harga bedasarkan timbangan sampai dengan tekstil berkualitas impor dan ekspor. Pasar ini memperdagangkan berbagai jenis tekstil yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat ekonomi tinggi, menengah, maupun lapis bawah. Pasar tanah abang merupakan pusat perdagangan yang tidak pernah sepi oleh penjual maupun pembeli. Para pembeli mulai berdatangan pukul 08.00. Jumlah pembeli ini meningkat sampai pukul 11.30. Pada tengah hari, jumlah pembeli mulai menurun. Namun, jumlah tersebut memuncak kembali pada pukul 14.00 sampai dengan 16.30.
Paragraf di atas disusun dengan urutan kalimat pertama sampai ke lima menuju penalaran induktif (dari khusus ke umum). Dan dari kalimat ke lima sampai dengan kalimat ke sembilan menuju penalaran deduktif (dari umum ke khusus). Maka penelaran keseluruhannya adalah induktif-deduktif.
c. Ide Pokok pada Akhir Paragraf
Paragraf yang letak ide pokoknya terletak pada akhir paragraf pada umumnya di awali dengan kalimat khusus kemudian di akhiri dengan kalimat umum. Paragraf yang seperti ini disebut dengan paragraf induktif.
Contoh paragraf induktif:
Setiap pagi Amin memulai harinya dengan bangun pukul 4.00. Begitu bangun, ia langsung mandi. Usai mandi dan berpakaian siap salat, ia pergi ke mesjid untuk melaksanakan salat subuh berjamaah bersama masyarakat di lingkungannya. Pulang dari salat subuh, ia langsung membereskan kamar, menyapu lantai, mencuci pakaiannya, dan menyiapkan sarapan pagi. Setelah segalanya beres, barulah ia bersiap-siap pergi ke sekolahnya. Ternyata, Amin memang anak yang rajin dan patut dicontoh.
Berbeda dengan paragraf sebelumnya, kalimat utama pada paragraf di atas terletak di akhir paragraf: “Amin memang anak yang rajin dan patut dicontoh.” Pada paragraf di atas terlebih dahulu memaparkan pernyataan yang bersifat khusus kemudian ditutup dengan pernyataan yang umum.
d. Ide Pokok pada Awal dan Akhir Paragraf
Ide pokok pada sebuah paragraf yang tertuang pada kalimat utama pada hakikatnya hanya satu. Penempatan kalimat utama yang kedua berfungsi untuk menegaskan kembali ide pokok paragraf tersebut. Namun demikian, penempatan kalimat topik pada awal paragraf dan akhir paragraf berpengaruh pada penalaran. Ide pokok pada awal paragraf menimbulkan sifat deduktif, pada akhir paragraf menimbulkan sifat induktif, maka jika ide pokok paragraf terdapat pada awal dan akhir paragraf menjadikan pargraf tersebut bersifat deduktif-induktif.
Contoh paragraf deduktif-induktif:
Selain merinci corak keragaman paradigma sosiologi, Ritzer mengemukakan alasan perlunya paradigma yang lebih bersifat terintegrasi dalam sosiologi. Meski ada alasan untuk mempertahankan paradigma yang ada, dirasakan adanya kebutuhan paradigma yang semakin terintegrasi. Ritzer berharap adanya keanekaragaman yang lebih besar melalui sebuah pengembangan paradigma baru yang terintegrasi untuk melengkapi paradigma yang ada, dan tidak dimaksudkan untuk menciptakan posisi hegemoni baru. Paradigma yang lebih bersifat terintegrasi diperlukan kehadirannya dalam sosiologi modern.
Paragraf di atas diawali kalimat yang bersifat umum dan diakhiri dengan kalimat yang bersifat umum. Kedua kalimat topik tersebut berisi pikiran utama yang sama.
6. Pengertian Wacana
Menurut Alwi dkk (2003: 419) “Rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain itu membentuk kesatuan yang dinamakan wacana”. Sedangkan menurut Chaer (2007: 267) “Wacana adalah satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hirarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar”.
Selain itu, menurut Kridalaksana (2001: 231):
Wacana adalah satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan (novel, buku, seriensiklopedia, dsb.), paragraf, kalimat, atau kata yang membawa amanat yang lengkap.
Dari pendapat para ahli di atas maka penulis mengambil kesimpulan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang saling berkaitan dan merupakan satuan bahasa yang lengkap, sehingga memiliki satuan gramatikal tertinggi atau terbesar dan direalisasikan dalam bentuk karangan, paragraf, kalimat, atau kata yang membawa amanat yang lengkap.
B. Kerangka Konseptual
Pada kerangka teoretis telah dijabakan hal-hal yang menjadi konflik permasalahan penelitian ini. Dalam kerangka konseptual memberikan penegasan istilah konsep pada penelitian yang terdapat pada judul yaitu “Hubungan Penguasaan Teori Paragraf dengan Kemampuan Menentukan Ide Pokok Setiap Paragraf Siswa Kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010”.
Dalam sebuah paragraf yang tersusun dari beberapa kalimat yang saling berkaitan, terdapat satu ide pokok yang tertuang dalam sebuah kalimat utama. Untuk menentukan ide pokok paragraf, terlebih dahulu peserta didik diberikan pengetahuan menganai teori paragraf. Sehingga peserta didik memahami tentang teori paragraf dan letak ide pokok dalam sebuah paragraf.
Sebuah paragraf hanya memiliki satu kalimat topik atau satu ide pokok saja. Ide pokok dalam sebuah paragraf ada yang terletak pada awal paragraf, pada tengah paragraf, pada akhir paragraf, serta terletak pada awal dan akhir paragraf.
C. Hipotesis
Hipotesis merupakan kesimpulan sementara dari judul yang akan diteliti. Menurut Ali (1982: 49) “Hipotesis merupakan kesimpulan yang ditarik berdasarkan fakta yang ditemukan; dan hal ini sangat berguna untuk dijadikan dasar membuat kesimpulan penelitian”. Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah ada hubungan penguasaan teori paragraf dengan kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang penulis pilih dalam melakukan penelitian kali ini adalah SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan. Penulis memilih lokasi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
a. Sekolah tersebut belum pernah dijadikan sebagai lokasi penelitian sesuai dengan masalah yang dikemukakan.
b. Lokasi tersebut cukup dekat dengan tempat tinggal penulis ditinjau dari segi biaya, tenaga, dan kemudian sangat efektif untuk melaksanakan penelitian ini.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian ini adalah mulai dari bulan Desember 2009 sampai dengan April 2010 dengan jadwal kegiatan seperti yang tercantum pada table di bawah ini.
TABEL I
RINCIAN WAKTU PENELITIAN
No Jenis Kegiatan Bulan / Minggu ke
Januari Februari Maret April Mei
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Penulisan Proposal
2 Bimbingan Proposal
3 Seminar Proposal
4 Perbaikan Proposal
5 Surat izin penelitian
6 Pengumpulan data
7 Pengolahan data
8 Penulisan skripsi
9 Bimbingan skripsi
10 Persetujuan skripsi
B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Sanafiah (1982: 324) berpendapat bahwa:
Populasi adalah sekelompok individu yang mewakili satu atau lebih karakteristik umum yang menjadi pusat perhatian penelitian. Populasi bisa berupa semua individu yang mewakili pola kelakuan tertentu atau sebagian dari kelompok itu. Artinya populasi dapat berupa individu yang mewakili semua pola kelakuan atau sebagian.
Berdasarkan pendapat di atas, dan sesuai dengan judul proposal, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010 sebanyak 137 orang sebagaimana yang terdapat pada tabel berikut ini.
TABEL 2
JUMLAH POPULASI
No. Kelas Jumlah Populasi
1. VIII-A 46
2. VIII-B 45
3. VIII-C 43
Jumlah 134
2. Sampel
Menurut Sukardi (2008: 54) “Sampel adalah sebagian dari jumlah populasi yang dipilih untuk sumber data.” Isaac dan Michael dalam Sukardi (2008: 54) menyatakan bahwa dalam pengambilan sampel penelitian ini memakai rumus:
Keterangan:
S = Jumlah sampel
N = Jumlah populasi akses
P = Proporsi populasi sebagai dasar asumsi pembuatan tabel. Harga ini diambil P = 0,50
d = Derajat ketetapan yang direfleksikan oleh kesalahan yang dapat ditoleransi dalam fluktuasi proporsi sampel, d pada umumnya diambil 0,05.
= Nilai tabel chisquare untuk satu derajat kebebasan relatif level konfiden yang diinginkan. = 3,841
Berdasarkan perhitungan di atas, maka penulis mengambil sampel sebanyak 100 orang dari 134.
C. Metode Penelitian
Metode merupakan salah satu komponen penentu keberhasilan dalam suatu penelitian. Metode yang paling baik adalah metode yang sesuai dan tepat dengan masalah yang akan diteliti. Oleh karena itu, maka dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian deskriptif yang sesuai untuk menjawab atau memecahkan masalah yang sedang dihadapi pada masa sekarang.
Menurut pendapat Ali (1982: 120) yang menyatakan bahwa:
Metode deskriptif adalah masalah yang dewasa ini sedang dihadapai dalam dunia pendidikan, baik untuk mengadakan penelaahan terhadap masalah yang mencakup aspek yang cukup banyak, menelaah suatu kasus tunggal, mengadakan perbandingan antara suatu hal dengan hal lain, ataupun untuk melihat hubungan antara suatu gejala dengan gejala lain; dan hubungan antar suatu gejala dengan peristiwa yang mungkin akan munculnya gejala tersebut.
Berdasarkan pendapat di atas, maka penggunaan metode deskriptif sangat tepat dan sesuai dengan tujuan penelitian yang dilaksanakan. Penulis berharap dengan menggunakan metode ini penulis dapat mengetahui hubungan penguasaan teori paragraf dengan kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah 21 Serbalawan T.P 2009/2010.
D. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah fenomena atau gejala yang terdapat dalam suatu masalah penelitian yang memiliki indikator untuk diukur. Adapun variabel penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu:
1. Variabel bebas, yakni variabel yang mempengaruhi variabel lain. Dalam hal ini yang menjadi variabel bebas adalah penguasaan teori paragraf.
2. Variabel terikat, yakni variabel yang dipengaruhi variabel bebas. Dalam hal ini yang menjadi variabel terikat adalah kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana.
E. Instrumen Penelitian
Instrumen adalah alat yang digunakan untuk memperoleh data penelitian. Sesuai dengan penelitian ini maka alat yang digunakan untuk menjaring data yang diperlukan adalah:
1. Untuk mengetahui penguasaan teori paragraf, maka penulis mengguanakan tes objektif yakni tes dalam bentuk pilihan ganda. Untuk mengetahui penguasaan siswa mengenai teori paragraf, maka siswa akan diberikan beberapa pertanyaan mengenai teori paragraf sebanyak 20 soal pilihan berganda. Dengan kisi-kisi soal sebagai berikut:
TABEL 4
KISI-KISI TES PENGUASAAN TEORI PARAGRAF
No. Indikator Nomor Soal Jumlah Soal
1.
2.
3.
4. Pengertian Paragraf
Menentukan ide pokok paragraf
Menyusun paragraf
Syarat-syarat paragraf 1
2, 3, 7, 9, 10, 16, 18
4, 6, 8, 11, 12, 14
5, 13, 15, 17, 19, 20 1
7
6
6
2. Untuk mengetahui kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana, maka penulis menggunakan tes essai yakni siswa diberikan sebuah wacana yang terdiri dari beberapa paragraf, kemudian siswa menentukan ide pokok setiap paragraf dengan tepat.
F. Teknik Analisis Data
Setelah semua nilai terkumpul maka langkah selanjutnya adalah pendistribusian untuk masing-masing variabel, baik variabel penguasaan teori paragraf maupun kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana.
Adapun langkah-langkah pengolahan data penelitian adalah:
1. Menetapkan skor siswa berdasarkan kriteria penelitian yang telah ditetapkan baik hasil tes penguasaan teori paragraf maupun kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana.
2. Menetapkan skor ideal penguasaan teori paragraf maupun kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana dengan nilai tes.
3. Mencari skor rata-rata dan standar deviasi kedua variabel.
4. Mencari nilai penguasaan teori paragraf maupun kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana.
5. Mencari indeks korelasi penguasaan teori paragraf (X) terhadap kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf (Y) dengan menggunakan rumus produk momen dari individu sebagai berikut:
Keterangan:
= Jumlah skor-skor x
= Jumlah skor-skor y
= Jumlah skor-skor x yang dikuadratkan
= Jumlah skor-skor y yang dikuadratkan
N = Jumlah skor-skor yang dipasang kemudian dicari pengaruh dengan menggunakan rumus
= Jumlah hasil perkalian antara skor x dan skor y
6. Mencari derajat hubungan penguasaan teori paragraf dengan kemampuan menentukan ide pokok setiap paragraf dalam wacana.
7. Pengujian hipotesis
Untuk menguji hipotesis ini dilakukan dengan cara membandingkan harga r hitung dengan r tabel produk momen pada N = 34, dengan tingkat kepercayaan 5% dengan ketentuan:
- Jika > maka ditolak, diterima.
- Jika < maka ditolak, diterima.
DAFTAR PUSTAKA
Akhadiah, Sabarti dkk. 1999. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga
Ali, Mohammad. 1982. Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi. Bandung: Angkasa
Alwi, Hasan dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Arifin, E. Zaenal dan S. Amran Tasai. 2006. Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Akademika Pressindo
Chaer, Abdul. 2007.Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
Hs. Widjono. 2005. Bahasa Indonesia: Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta: Grasindo
Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Poerwadarminta, W. J. S. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Sanafiyah, Faisal. 1982. Metodologi Penelitian. Bandung: Angkasa
Soedarso. 2004. Speed Reading: Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Sukardi. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Tarigan, H. Guntur. 1990. Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.S
Sabtu, 10 April 2010
Bermain Sambil Belajar atau Belajar Sambil Bermain

Bermain Sambil Belajar atau Belajar Sambil Bermain?
Erfano Nalakiano
1 dari 1 Kompasianer menilai Bermanfaat.
satu-saja
Proses pembelajaran yang terjadi di Indonesia dilakukan dengan serius. Nyaris tak ada sesuatu yang dilakukan dengan ceria. Hal tersebut pun terjadi tak sesaat, berpuluh-puluh tahun ternyata.
Ingatkah kita, saat masih berseragam? Saat lonceng pagi berdering, pertanda kita masuk. Wajah kita terbawa begitu serius. Belum lagi pelajaran yang diberikan bertemakan serius pula. Sehingga hati kita setengah hati menerima ilmu bahkan mungkin terpental.
Saat pelajaran berhenti lalu dilanjutkan dengan istirahat, rasanya dunia menemui titik terang. Perasaan lega dan gembira berangsur-angsur terdampar di hati. Meskipun ‘titik gelap’ kembali datang kala lonceng berbunyi.
Itulah sekelumit gambaran tentang dunia pendidikan kita. Serius, terkesan satu arah, dan punishman. Padahal suatu pengetahuan akan masuk dengan baik saat otak di kepala kita enjoy dan siap.
Cetakan manusia-manusianya pun lebih banyak menjadi manusia penurut, tak kreatif dan tak kritis. Bicara tentang ilmu yang didapat pun? Banyak yang menguap.
Merancang pembelajaran dengan pola bermain adalah salah satu hal yang dianjurkan. Terlebih untuk anak-anak di bawah usia 6 tahun. Selain itu dalam membawakan materi dengan interaktif dan fun sangat membantu. Tak kaku apalagi sampai beraroma galak.
Belajar dengan bermain dapat dilakukan dengan beragam macam kegiatan. Membuat quiz, games dan kelompok belajar lebih memudahkan dalam penyerapan materi. Saat pembelajaran dilakukan, anak-anak akan merasa terlibat. Semua anggota badan akan terlibat sehingga saat otak lupa, tangan, kaki, mata, telinga dan bagian otak yang lainnya akan mengingatkan.
Apa bedanya dengan bermain sambil belajar? Tak jauh beda. Namun bermain sambil belajar lebih bebas dan tak berlaku aturan. Yang perlu diperhatikan adalah merancang alat bermain yang memiliki nilai edukasi. Untuk anak-anak usia di bawah 6 tahun, alat-alat bermain banyak membantu dalam penguatan motorik halus, motorik kasar dan kognitif anak.
Nah, yang paling penting pemateri atau yang lebih keren disebut guru yang juga mesti fun dalam penyampaian materi. Kan percuma rasanya jika rancangan pambelajaran yang sudah bagus, hanya karena si pemateri tidak siap dan tidak menguasai.
Belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar memiliki nilai-nilai positif. Tentu saja bagi perkembangan anak-anak di Indonesia. Ingat tak harus guru, kita sebagai orang tua atau calon orang tua harus bisa menggunakan pembelajaran ini. Buat anak-anak kita sebagai anak yang terlahir dengan kreatif, kritis dan mempunyai karakter yang kuat! Dan tinggalkan pembelajaran yang serius, kaku, satu arah dan serba punishman! Setujuu??
BELAJAR JUGA BUTUH STRtegi

Belajar juga Butuh Strategi
Dwiarko
1 dari 2 Kompasianer menilai Bermanfaat.
Pengajaran yang baik adalah pengajaran yang meliputi mengajar siswa tentang bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana berfikir dan bagaimana memotivasi diri mereka sendiri. Pembelajaran strategi lebih menekankan pada kognitif, sehingga pembelajaran ini dapat disebut dengan strategi kognitif. Strategi belajar dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu :
a. Strategi Mengulang (Rehearsal)
Strategi mengulang terdiri dari strategi mengulang sederhana (rote rehearsal) dengan cara mengulang-ulang dan strategi mengulang kompleks dengan cara menggaris bawahi ide-ide utama (under lining) dan membuat catatan pinggir (marginal note).
b. Strategi Elaborasi
Elaborasi adalah proses penambahan rincian sehingga informasi baru akan menjadi lebih bermakna, oleh karena itu membuat pengkodean lebih mudah dan lebih memberi kepastian.(Nur,2000:30). Strategi ini dapat dibedakan menjadi : 1). Notetaking (pembuatan catatan); pembuatan catatan membantu siswa dalam mempelajari informasi secara ringkas dan padat untuk menghafal atau pengulangan. Metode ini digunakan pada bahan ajar kompleks, bahan ajar konseptual dimana tugas yang penting adalah mengidentifikasi ide-ide utama.Membuat catatan memerlukan proses mental maka lebih efektif daripada hanya sekedar menyalin apa yang dibaca, 2) Analogi yaitu perbandingan-perbandingan yang dibuat untuk menunjukkan kesamaan antara cirri-ciri pokok sesuatu benda atau ide-ide, selain itu seluruh cirinya berbeda, seperti sistem kerja otak dengan komputer dan 3) Metode PQ4R adalah preview,question, read, reflect, recite dan review. Prosedur PQ4R memusatkan siswa pada pengorganisasian informasi bermakna dan melibatkan siswa pada strategi-strategi yang efektif.
c. Strategi Organisasi
Strategi Organisasi bertujuan membantu siswa meningkatkan kebermaknaan materi baru, terutama dilakukan dengan mengenakan struktur-struktur peng-organisasian baru pada materi-materi tersebut. Strategi organisasi mengidentifikasi ide-ide atau fakta-fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar. Strategi ini meliputi : 1). Pembuatan Kerangka (Outlining); dalam pembuatan kerangka garis besar, siswa belajar menghubungkan berbagai macam topik atau ide dengan beberapa ide utama, 2). Pemetaan ( mapping) biasa disebut pemetaan konsep di dalam pembuatannya dilakukan dengan membuat suatu sajian visual atau suatu diagram tentang bagaimana ide-ide penting atas suatu topik tertentu dihubungkan satu sama lain, 3) Mnemonics; berhubungan dengan teknik-teknik atau strategi-strategi untuk membantu ingatan dengan membantu membentuk assosiasi yang secara alamiah tidak ada. Suatu mnemonics membantu untuk mengorganisasikan informasi yang mencapai memori kerja dalam pola yang dikenal sedemikian rupa sehingga informasi tersebut lebih mudah dicocokkan dengan pola skema di memori jangka panjang. Contoh mnemonics yaitu : a). Chunking (pemotongan) b). Akronim (singkatan), c). Kata berkait (Link-work) : suatu mnemonics untuk belajar kosa kata bahasa asing.
d. Strategi Metakognitif
Metakognitif adalah pengetahuan seseorang tentang pembelajaran diri sendiri atau berfikir tentang kemampuannya untuk menggunakan strategi-strategi belajar tertentu dengan benar.(Arends, 1997:260). Metakognitif mempunyai dua komponen yaitu (1) pengetahuan tentang kognitif yang terdiri dari informasi dan pemahaman yang dimiliki seorang pebelajar tentang proses berfikirnya sendiri dan pengetahuan tentang berbagai strategi belajar untuk digunakan dalam suatu situasi pembelajaran tertentu, (2) mekanisme pengendalian diri seperti pengendalian dan monitoring kognitif.
Jumat, 09 April 2010

Strategi Belajar Mengajar Profesional
13:21 | Thursday, 8 October 2009
KITA belajar berdasarkan yang dibaca, didengar, dilihat, dikatakan dan dilakukan. Secara bahasa strategi biasanya diartikan sebagai siasat, kiat, terik atau cara. Sedangkan secara umum maknanya adalah suatu garis besar haluan dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Adapun strategi belajar mengajar bisa diartikan sebagai pola umum dalam kegiatan guru dan siswa dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Dengan istilah lain strategi belajar mengajar merupakan sejumlah langkah yang direkayasa untuk mencapai tujuan mengajar tertentu.
Untuk melaksanakan tugas secara profesional seorang guru memerlukan wawasan yang baik dan terukur tentang kemungkinan strategi belajar mengajar yang sesuai dengan tujuan belajar yang dirumuskan.
Batasan belajar mengajar yang bersifat umum mempunyai empat dasar strategi.
1. Mengindentifikasi serta menetapkan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan sesuai dengan perubahan zaman.
2. Mempertimbangkan dan memilah sistem belajar mengajar yang tepat untuk mencapai sasaran yang akurat.
3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
4. Menetapkan norma batas minimal keberhasian atau kriteria dan standar keberhasilan. Sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru melakukan evaluasi hasil belajar. Selanjutnya dijadikan umpan balik untuk penyempurnaan sistem instruksional secara keseluruhan.
Dari keempat uraian di atas, jika diterapkan dalam konteks kegiatan belajar mengajar, strategi belajar mengajar pada dasarnya memiliki implikasi sebagai berikut:
1. Proses mengenal karakteristik dasar anak didik yang harus dicapai melalui pembelajaran.
2. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan kultur, aspirasi dan pandangan filosofi masyarakat.
3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik mengajar.
4. Menetapkan norma atau kriteria keberhasilan belajar.
Hakikat proses belajar mengajar terkaitan dengan konsep belajar. Banyak definisi tentang belajar, diantaranya:
1. Belajar sebagai suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.
2. Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi yang sama,. Perubahan tingkah laku tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan atau keadaan sesaat seseorang.
3. Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.
4. Belajar sebagai suatu perubahan yang relatif dalam menetapkan tingkah laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman yang lalu.
5. Belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia. Perubahan tersebut terlihat dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan daya fakir dan kemampuan lain.
Dari beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa belajar pada hakikat adalah perubahan yang terjadi di dalam diri seseorang setelah melakukan aktivitas tertentu. Walau pada kenyataannya, tidak semua perubahan termasuk kategori belajar. Misalnya perubahan fisik, mabuk, gila dan sebagainya.
Dalam belajar yang terpenting adalah proses. Bukan hasil yang diperoleh. Artinya, belajar harus diperoleh dengan usaha sendiri. Adapun orang lain hanya sebagai perantara atau penunjang dalam kegiatan belajar, agar belajar mendapatkan hasil baik. (*)
Oleh:
Gunawan SPdI
Guru SD Namira Tanjung Sari

