Rabu, 05 Mei 2010

Hardiknas Pengajaran Kecurangan




Hardiknas atau hari pendidikan nasional merupakan salah satu bentuk refleksi terhadap dunia pendidikan Indonesia. Berkaitan dengan pendidikan dan UN (Ujian Nasional) yang diselenggarakan pemerintah secara serentak beberapa waktu lalu, dosen BSI UMSU Aisyah Aztry memberikan komentar tentang UN dalam kuliahnya Sabtu (1/4) di Gedung B Ruang 201 UMSU pukul 13.00 WIB,”Bagaimana pendapat kalian tentang pelaksaan UN? Apakah setuju dengan catatan….atau setuju tanpa catatan…”di depan seluruh mahasiswanya. Beliau juga memaparkan usaha pemerintah menangani kasus pahlawan tanpa jasa tidaklah serius. Hal tersebut dibuktikan dari bannyaknya kasus sertifikasi yang tidak professional.

“sertifikasi yang diadakan pemerintah juga masih terdapat banyak kecurangan. Banyak guru yang baru mengajar beberapa tahun saja sudah langsung dapat sertifikasi, sedangkan yang sudah lama dan berpengalaman masih seperti itu-itu saja. Kita tidak bisa bergerak kalo tidak ada orang dalam. Jadi di dunia pendidikan juga ada mafia kasus.” Demikian penjelasnya terhadap tanggapan yang telah disampaikan mahasiswanya. Beliau sependapat dengan mahasiswanya yang mengatakan setuju diadakan UN dengan catatan untuk mengukur mutu pendidikan Indonesia, bukan menjadi tolok ukur keberhasilan siswa. Pasalnya sumatera utara termasuk provinsi lima besar yang meluluskan siswa UN tahun ini. Padahal penyelenggaraan UN sekarang semakin banyak menimbulkan kecurangan, baik dari siswa itu sendiri maupun guru yang mengajar di sekolah yang bersangkutan. Lebih parah lagi, pemerintah kabupaten juga tidak mau kalah menolong siswa dalam berbuat curang. Demikian cermin pendidikan Indonesia. Pendidikan yang mengajarkan ketidakjujuran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan kirim kritik dan saran anda terhadap blog ini.